JAKARTA – Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief, terjerat kasus narkoba. Pria kelahiran Bandar Lampung pada 1970 silam itu ditangkap polisi diduga ketika sedang mengonsumsi sabu di sebuah hotel di kawasan Jakarta Barat.

Polisi menyatakan penangkapan Andi Arief berdasarkan informasi dari masyarakat dan telah sesuai prosedur. “Jadi penangkapan ini spontan,” kata Kadiv. Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal dalam konferensi pers di Mabes Polri, Senin, 4 Maret 2019, seperti dilansir cnnindonesia.com.

Awalnya, polisi mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa ada pengguna narkoba di sebuah hotel di kawasan Jakarta Barat pada 3 Maret 2019. Laporan masyarakat itu masuk ke telinga petugas pada Minggu (3/3) pukul 18.30. Berangkat dari informasi itu, petugas melakukan penyelidikan terhadap kabar tersebut.

“Setelah dilakukan upaya lidik, mapping, surveillance dan lain-lain, petugas berhasil gerebek dan lakukan upaya paksa kepolisian berbentuk penangkapan dan, penyitaan terhadap beberapa barang bukti,” ujar Iqbal.

Setelah penggerebekan berlangsung, Iqbal mengatakan petugas mengonfirmasi bahwa pengguna narkoba tersebut adalah Andi Arief. Sejumlah barang bukti yang berada di lokasi, kata dia, positif alat yang dipakai untuk mengonsumsi sabu. Namun, polisi tak menemukan barang bukti narkoba.

Berdasarkan pemeriksaan yang masih berjalan, aparat menduga Andi hanya sebatas pengguna saja. Hingga saat ini polisi masih memeriksa Andi dan sejumlah saksi. “AA diperiksa dan pendalaman berikut saksi-saksi,” kata Iqbal.

Polisi mengaku masih mencari tahu mengenai berapa lama Andi menggunakan narkoba. Mereka juga masij menggali informasi terkait sumber barang haram tersebut.

Andi juga sudah dinyatakan positif mengonsumsi narkoba jenis sabu berdasarkan hasil tes urine.

Iqbal berjanji pihaknya mengumpulkan informasi mengenai perkara ini sesegera mungkin. “Sampai saat ini hanya sebatas pengguna namun pemeriksaan pendalaman scientific akan kami rampungkan secepatnya,” katanya.

Andi yang dikenal sebagai aktivis 1998 itu dulu sempat 'diculik aparat' pada masa Orde Baru terkait aktivitasnya sebagai Ketua Umumm Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Kini, ia dicokok aparat karena berurusan dengan benda terlarang yakni narkoba.

Perjalanan pendidikan Andi Arief lebih banyak dihabiskan di kota kelahirannya, Bandar Lampung. Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1989 silam.

Di dunia mahahasiswa itulah, pemikiran Andi Arief semakin berkembang dan terlibat dalam pergerakan di kampus. Ia tercatat pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fisipol UGM pada 1993-1994. Kemudian, dia menjadi Ketua SMID cabang Yogyakarta pada 1994.

Memasuki 1996, Andi Arief menjadi Ketum SMID dan mulai aktif di Partai Rakyat Demokratik. Akibat PRD dinilai mengancam rezim Orde Baru, sejumlah tokohnya lalu diculik termasuk Andi Arief.

Andi Arief dicokok segerombol pria berambut cepak pada 28 Maret 1998 di ruko milik kakaknya di Bandar Lampung. Kisah penculikan para aktivis, termasuk Andi Arief, itu setidaknya bisa dibaca dalam buku karya Erros Djarot dkk berjudul Prabowo Sang Kontroversi: Kisah Penculikan, Isu Kudeta, dan Tumbangnya Seorang Bintang (2007)
.
Andi disebut disekap selama 17 hari, di mana ia diinterogasi para penculik yang meminta keterangan perihal tokoh-tokoh yang dianggap beroposisi pada rezim Orde Baru. Ia bebas dari 'tahanan politik' itu pada Juli 1998.

Dunia politik pascareformasi

Memasuki masa reformasi, Andi Arief kembali terlibat dalam politik. Pada Pemilu Presiden 2004, ia turut berperan memenangkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla.

Oleh SBY, Andi sempat dijadikan sebagai salah satu komisaris PT Pos Indonesia. Selain itu, ia pun didapuk SBY menjadi staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana.

Salah satu yang fenomenal dari kiprah Andi Arief di Istana adalah menginisiasi tim terpadu riset mandiri untuk meneliti situs megalitik Gunung Padang, Cianjur.

Di kontestasi pemilu, Andi Arief pernah terlibat dalam Pilgub Lampung 2008. Kala itu Andi Arief maju sebagai calon wakil gubernur bersama Muhajir Utomo dari jalur independen. Pada akhirnya, dia gagal menjadi Wagub Lampung.

Jelang kontestasi Pilpres 2019, Andi Arief sempat beberapa kali memanaskan suhu politik Indonesia lewat kicauan-kicauannya di Twitter.

Beberapa di antaranya menyebut Prabowo Subianto sebagai 'jenderal kardus'. Pun menuding Sandiaga Uno menyetor uang ke partai pendukung Prabowo agar memilihnya sebagai calon wakil presiden.

Itu dilakukannya sebelum Partai Demokrat memilih turut dalam koalisi pengusung Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019.

Terbaru, adalah soal kicauan dirinya perihal tujuh kontainer surat suara telah tercoblos di dermaga tanjung priok. Kabar tujuh kontainer surat suara itu belakangan diketahui hoaks.[]Sumber:cnnindonesia.com