Maop adalah sebuah sebutan dalam budaya Aceh. Sebutan ini biasanya digunakan oleh orang dewasa untuk menakut-nakuti anak kecil. Apakah anak kecil takut pada ma’op? Benar sekali. Dari sejak itulah anak kecil di Aceh diajarkan untuk takut pada sesuatu yang tidak pernah diketahui rupa dan suaranya.
Menurut beberapa sumber, istilah ma’op baru muncul di Aceh setelah penjahat dari Eropa, Belanda, datang. Dengan segala cara, baik tersembunyi atau berterus terang mereka mencoba mengikis rasa kepercayaan diri orang Aceh sejak kecil. Maka dibuatlah sebuah mitos, ma’op.
Aceh, dalam beberapa bidang, menamai sesuatu dengan tiruan bunyi. Dengan begitu, dari manakah asal kata ma’op?
Ada satu binatang bernama pa’e atau tokek atau gekko gecko. Apabila menghuni bangunan seperti rumah, gekko gecko bersuara ‘et ‘e ‘et ‘e… Jika menghuni semak belukar atau hutan, maka suaranya ‘op, ‘op. Orang Aceh menyebut pa’e untuk gekko gecko. Berarti, meniru suara binatang itu yang menghuni bangunan.
Setelah menyerang Kesultanan Aceh Darussalam, Belanda yang saat itu besar kemungkinan kurang beradab ingin menghancurkan peradaban Aceh, sampai habis. Setelah mengetahui beberapa kata dalam Bahasa Aceh, dan mereka juga mengetahui, anak-anak takut pada suara gekko gecko, baik yang di hutan atau di rumah.
Dalam budaya Aceh, sesuatu yang paling besar adalah ‘ma’, ibu. Maka suara ‘op yang ditakuti anak-anak dijadikanlah sebuah mitos, menjadi ma’op, ibunya si ‘op yang bersuara mengerikan dalam hutan. Tidak mungkin dibuat ma’e karena ma’e adalah panggilan orang Aceh untuk orang bernama Isma’il.
Demikianlah sekilas tentang asal usul kata ma’op menurut sebuah sumber yang saya temui. Benar atau tidaknya, saya sendiri tidak mengetahuinya, sama seperti Anda yang tidak mengetahui apakah ma’op itu ada atau tidak, apalagi mengetahui bagaimana rupa dan suaranya. Yang pasti, Anda dulu pernah takut pada ma’op. Dan jangan lagi menakuti anak-anak Anda dengannya. Kemarin, saya mendapat kabar bahwa ma’op telah mati.[]
*Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025

