BANDA ACEH – Belasan kru dan artis yang ikut andil dalam Film ‘’Di Kaki Kota Janthoe” (DKKJ) menghadiri bedah film tersebut dalam acara “Cang Film” di Mini Teater Aceh Documentary, Banda Aceh, Selasa 12 April 2016.  

Produser film DKKJ, Maimun Yulif mengatakan, film tersebut mengisahkan dua keluarga, yang satu baik menjaga anaknya sehingga selamat, yang satu lagi mengabaikan anaknya sehingga terjebak narkoba.

Sutradara Thayeb Loh Angen, mengatakan para hadirin menanyakan, mengapa film ini hanya sedikit memakai bahasa Aceh, dan mengapa lebih banyak menampilkan efek dari pemakaian narkoba, dan beberapa hal teknis.

“Film Anti narkoba harus melahirkan bias (efek) orang untuk menghindari narkoba, bukan malah mengajarkan orang tentang narkoba dan cara memakainya sebagaimana yang sering terlihat di iklan. Itu bodoh, katanya anti narkoba tetapi mengampanyekan narkoba. Itu bodoh,” kata Thayeb.

Tentang bahasa, kata Thayeb, bahasa Jawi yang kini menjadi Melayu atau Indonesia, pertama kali dikembangkan menjadi bahasa ilmiah dan sastra oleh orang Aceh di zaman Samudra Pasai, dimasyhurkan oleh Hamzah Fansuri.

 

“Bahasa Melayu itu bahasa kita, orang harus sadari itu. Dan untuk melestarikan bahasa Aceh, kita turutkan sedikit di dalamnya. Lagi pula, ini film berkisan tentang Aceh Besar, dialek bahasa Aceh-nya berbeda dengan yang saya tuturkan. Bahkan, untuk beberapa kalimat yang disertakan dalam film ini, saya harus tanya pada beberapa orang Aceh Besar untuk kebenaran dialeknya,” kata Thayeb.

 Pendiri Aceh Documentary, Azhari, mengatakan, diskusi “Cang Film” mereka buat sebanyak dua kali dalam sebulan, sejak tahun lalu.

“Ini acara acara Cang Film yang paling banyak hadirin, selama kami buat. Dari produser, sutradara, editor, kamera person, artis, composer, dan lainnya, ikut hadir,” katanya.

Ketua DPRK Aceh Besar, Sulaiman, SE, di tempat terpisah, mengatakan, dirinya menyambut baik kehadiran film DKKJ yang diproduksi selama Februari, Maret, dan awal April 2016 tersebut.

“Mudah-mudahan, ini akan ada gunanya untuk menghindarkan orang-orang, terutama penduduk Aceh Besar, dari narkoba, dan dengannya orang semakin tertarik dengan keindahan tempat wisata di sini,” katanya.[]