JANTHO – Puluhan anak berbaris rapi di depan gedung yang dulunya adalah ruang serba guna. Mereka sedang mendengarkan arahan kepala sekolah. Hari itu udara terasa panas namun anak-anak itu tetap terlihat semangat. Satu dua dari mereka terlihat bercanda dengan temannya dalam barisan.

Ruang serba guna milik desa itu telah disekat menjadi ruang belajar. Anak-anak SD IT Hafizul Ilmi, Desa Blang Krueng, Aceh Besar ini rela untuk duduk berhimpitan demi menerima pelajaran baru hari itu. Mereka tertib meski harus berbagi meja dengan teman sebelahnya.

“SD ini pertama sekali menerima murid pada tahun 2015 lalu dan mendapatkan izin resmi operasional dari dinas pendidikan pada tahun 2016,” ucap Artati, kepala sekolah SD tersebut saat ditemui portalsatu.com di kantor guru, Senin ,10 Juli 2017.

Ia mengambil beberapa dokumen terkait dengan pemberian NPSN yang telah resmi dikeluarga oleh dinas terkait. Dalam ruang yang kira-kira sebesar 3 kali 7 meter itu terdapat banyak dokumen. Hanya ada satu meja besar untuk menampung 15 orang guru aktif.

Sekolah itu hanya memiliki 5 ruang kelas dengan jumlah siswa mencapai 109 orang. Dari jumlah tersebut baru ada kelas 1, 2 dan 3. Sekolah ini belum punya alumni. Sekolah dasar terpadu ini adalah sekolah yang dirintis oleh penduduk desa Blang Krueng yang sadar akan pentingnya pendidikan.

“Sekolah ini dibangun dari sumbangan warga,” ucap T Muslem, Geuchik Blang Krueng.

Ia bercerita bahwa desa itu awalnya tak punya sekolah. Anak-anak di desa itu pun harus bersekolah di desa tetangga. Namun karena sekolah di desa tetangga lebih memprioritaskan putra daerah maka tak sedikit anak di desa Blang Krueng yang tak dapat kursi karena kouta penuh.

Geuchik T Muslem pun mengambil inisiatif untuk mendirikan sebuah sekolah di desa tersebut. Bukan sekolah miliknya tapi sekolah milik desa yang dibangun dengan bantuan warga desa itu. Ia pun mengajak warga untuk bermusyawarah. Tahun 2013 ia mulai menggagas hal tersebut bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat. Hasilnya warga yang sadar pentingnya pendidikan pun ikut berkontribusi.

“Ada yang sumbang ratusan ribu ada yang jutaan. Bahkan yang tak sanggup sumbang dana ada yang sumbang tenaga, pokok jih rumoh ikulah beu teudong,” kata T Muslem.

Tahun 2014 sebuah sekolah dasar terpadu Islam pun berdiri. Awalnya hanya menyekat bangunan serba guna dan akhirnya ditambah dengan bangunan baru di sebelahnya. Tahun 2015 sekolah itu mulai dipakai.

“Muncul lagi persoalan baru, gaji guru bagaimana? Nah, kita musyawarah lagi,” ucap T Muslem.

Warga desa pun mulai menyumbang untuk honor guru. Meski tak dibayar tak seberapa, guru di SD tersebut tetap ikhlas mengajar.

“Kalau untuk guru kita lakukan perekrutan dan kita katakan di awal kalau sekolah ini belum bisa bayar banyak untuk guru, bagi yang mengerti akhirnya bertahan,” ucap Artati, kepala sekolah SD tersebut.

Mimpi besar desa ini adalah mempunyai sekolah mulai dari jenjang TK hingga SMA. Bila perlu bahkan ada Universitas Blang Krueng. Pentingnya pendidikan, kata Muslem, tak bisa ditawar lagi. Pasalnya, dua belas tahun silam desa ini merasai rata dengan tanah akibat tsunami.

“Saya menyusuri jalan yang terkena tsunami saat itu dan sadar kalau harta bukanlah segalanya,” kata Muslem.

Jika berbicara kekurangan tentu sekolah itu masih jauh dari kata sempurna. Mulai dari bangunan sampai pengelolaannya perlu dibenahi di sana-sini. Sekolah itu bahkan tak punya perpustakaan yang layak. Namun itu bukanlah batu sandungan yang berarti bagi masyarakat Blang Krueng. Mereka sadar pentingya pendidikan dan terus berusaha menyempurnakan sekolah milik desa itu.

Berkat usaha mengutamakan pendidikan itu desa yang satu ini memperlihatkan kemajuan. Anak-anak yang putus sekolah sudah tak ada lagi. Bahkan catatan kasus desa ini di kepolisian pun mulai berkurang signifikan.

Inovasi desa tersebut ternyata tercium sampai ke tingat nasional. Meski di tingkat daerah belum mendapat bantuan yang berarti, sekolah ini dilirik pusat. Gampong Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar dinobatkan sebagai Desa Unggulan Nasional Kategori Sadar Pendidikan Tahun 2016. Penobatan itu dilakukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI bekerja sama dengan majalah Tempo.

Penghargaan itu diserahkan Menteri Koperasi dan UKM RI, Drs Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga kepada Wakil Bupati Aceh Besar, Drs Syamsulrizal MKes di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa 15 November 2016. Malam anugerah tersebut juga dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Eko Putro Sandjojo.

Meski demikian prestasi yang ditorehkan oleh desa tersebut tak membuat warganya jemawa. Mereka ingin berfokus pada pendidikan formal yang dirintis dari keringat itu. Mereka hanya ingin anak-anak di desa itu dapat mengenyam pendidikan yang layak.

“Saya ingin siapa pun pemimpinnya, hal-hal seperti ini harus diperhatikan. Pendidikan itu sangat penting,” kata T Muslem.[]