Assalamu’alaikum. Beberapa kali terdengar syahdu akan salam itu, kerana dinyanyikan ke dalam lirik lagu. Sahlonba (Silaturrahmi Aneuk Misbah Lam Rantoe Banda) yang mendendangkan salam tersebut di awal pembukaan acara bincang kebudayaan “Hubungan Aceh dan Afrika.”
Setelah group Nasyid tersebut dipersilahkan oleh pembuka dan keynote speakers acara Dr. Mehmet Ozay (Turki). Sekalian tamu pun mulai terdiam dan seketika memperhatikan ke arah suara salam merdu yang berada di hadapan mereka (tamu) tersebut.
Adalah di hadapan tetamu itu sekelompok anak muda dengan setelan celana hitam dan baju batik menandakan ciri khas mereka, suara mulut berbagai macam ragam terdengar indah, bergenre acapella musik yang diadopsi oleh group nasyid itu. Kesemua anggota group itu berjumlah tujuh orang, Hanifar, Tanzil Woncheng, Jaka Alayyubi, Ridha Fauzan, Dedi, Chandra, dan Hendra.
Kilauan cahaya kamera baik HP (Hand Phone) berbagai jenis merk tiada henti-hentinya menerangi/merekam penampilan mereka, begitu juga suara tepuk tangan manja bersahut-sahutan menambah akan semangat diri sebelum acara seminar kebudayaan itu dimulai.
Namun pada hari Sabtu, pukul 14:00 WIB di dalam ruang acara ACC Sultan II Selim Banda Aceh, mereka hanya berlima sahaja.
“Dua orang personil lainnya berhalangan,” ujar Hanifar selaku ketua di group nasyid itu setelah mereka sukses menampilkan dua lagu di waktu siang menjelang sore hari tersebut.
Tanggal 12 Maret 2016 merupakan hari yang bersahaja bagi mereka, kerana bisa tampil di acara seminar kebudayaan yang digagas oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Turki). Kerana pada dasarnya PuKAT belum pernah sekalipun menghadirkan pemusik di acara-acara yang sudah-sudah.
“PuKAT, belum pernah menghadirkan pemusik di setiap ada acara baik seminar dan semacamnya selain Joel Pase karena sekaligus pemandu, dan Muda Balia karena mengangkat tentang syair hikayat dan Ali Hasymi. Mereka (Sahlonba) adalah yang perdana hadir sebagai grup khusus pengisi seni di acara kami, sebelum ini selalu kita tolak,” kata Thayeb Loh Angen. Ia salah satu punggawa di organisasi antarbangsa tersebut juga selaku ketua panitia di acara seminar “Hubungan Aceh dan Afrika” di kesempatan kali ini.
Setelah pemateri Nur Djuli dan Juanda Djamal usai memaparkan sedikit banyaknya tentang hubungan Aceh dan Afrika, beserta pengalaman-pengalaman mereka (pemateri), kemudian diberilah kesempatan dan waktu bagi sekalian tetamu yang hadir dan khususnya untuk dua orang profesor yang berkesempatan hadir di acara megah tersebut.
Mereka, Prof. Darwis Sulaiman dan Prof Hasbi Amiruddin. Darwis Sulaiman juga ikut menceritakan tentang pengalamannya bepergian ke Afrika pada tahun 1993 dulu.
Dan Hasbi Amiruddin dalam komentarnya mengatakan bahawa orang Aceh itu dari dulu sudah pergi ke mana-mana. Sembari berdagang mereka juga membawa pesan agama, tauhid masih sangat melekat di hati mereka itu.
“Orang dulu, pergi ke mana-mana dan pun tidak kenapa-napa, kerana memang di dalam hati mereka tersebut masih sangat kuat akan ketauhidan, bukan hanya untuk pergi berdagang sahaja, akan tetapi membawa juga pesan-pesan agama,” profesor tersebut pun terus berkata-kata.
Saya yang duduk di barisan ketiga itu pun termanggut-manggut, banyak sangat akanpada hal-hal baru yang saya temukan di acara seminar kebudayaan Hubungan Aceh dan Afrika itu. Turut juga hadir beberapa orang mahasiswa jurusan politik dari Thailand/Pattani. Mereka dibawa serta oleh kanda Juanda Djamal.
Suasana di dalam ruang seminar kian senyap dan hanya terlihat bang Kini Komedi (Zulkini) dan kawan-kawan sesekali ianya mondar-mandir untuk merekam/shooting dan mengambil gambar, ia adalah ketua kameramen Discover Studio juga diundang oleh Thayeb Loh Angen.[]
Laporan: Syukri Isa Bluka Teubai, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF)

