BANDA ACEH – Aceh merupakan suatu wilayah yang dihuni oleh multi gen. Jika memandang Aceh hanya sebagai sebuah etnik, sungguh disitulah letak kemunduran kita. Maka pandanglah Aceh sebagai sebuah provinsi.

Demikian disampaikan anggota DPRA dari Fraksi PKS–Gerindra, Bardan Sahidi, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Unsyiah Leadership Development Camp 2016 di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah, Saree, Aceh Besar, Sabtu, 7 Mei 2016 sore kemarin. Kegiatan ini diikuti oleh 102 mahasiswa dari berbagai fakultas di Unsyiah yang berlangsung sejak 5 Mei 2016 hingga 8 Mei 2016.

Bardan Sahidi dalam kesempatan tersebut turut mengajak para mahasiswa untuk menjadi sosok pemersatu dan perekat dari keberagaman masyarakat Aceh. Ia meminta kepada para mahasiswa untuk tidak takut jika memang harus mengikuti Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di daerah terluar Aceh. Pasalnya, kata dia, para pemimpin lahirnya dan berproses di kampus dan juga di pergerakan-pergerakan mahasiswa.

“Aceh merupakan sebuah provinsi. Mari kita jadikan dari Sabang sampai dengan Tamiang dan dari Singkil sampai dengan Lawe Balang sebagai tagline provinsi kita. Aceh sudah lama terkotak-kotak, yang dimulai oleh Snouck Hurgronje. Dan mahasiswalah sosok pemersatu dan perekat masyarakat Aceh,” kata Bardan.

Dalam kesempatan tersebut, Bardan Sahidi juga menguraikan makna dan hakikat dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta mengungkapkan adanya perbedaan yang mencolok antara pergerakan mahasiswa sekarang dengan pergerakan masa lalu. Ia mencontohkan, dulunya satu orang mahasiswa saja yang diajak untuk aksi, maka hampir satu kampus ikut bersama.

“Sedangkan mahasiswa sekarang, yang diajak satu kampus tapi hanya sebagian kecil saja yang mau ikut,” ujarnya.[](bna)