SUBULUSSALAM – Harga tanda buah segar (TBS) ke­lapa sawit ber­angsur naik menjadi Rp1.100 per kilogram di tingkat petani dalam dua pekan terakhir di wilayah Kota Subulussalam dari sebelumnya sekitar Rp930-Rp950 per kilogram.

Kondisi ini membuat petani mulai lega setelah sebelum­nya harga TBS turun drastis Rp800 per kilogram, bahkan Rp700 per kilogram pada titik terendah, di daerah yang jauh dari pabrik di pertengahan 2018 lalu.

“Alhamdulillah, sekarang sudah naik sedikit dibanding­kan sebelum­nya. Sekarang Rp1.100 per kilogram tingkat pe­tani,” kata Selamat Berutu, salah seorang petani sawit di wilayah Kecamatan Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Senin, 4 Maret 2019.

Sebelumnya, harga TBS berkisar Rp800-Rp830 per kilogram, dan terendah Rp700 per kilogram di tingkat pe­tani hampir sepanjang tahun 2018. Hal ini meng­akibatkan petani menderita lan­taran hasil panen tidak sesuai de­ngan biaya pengeluaran untuk pera­watan kebun.

“Sebenarnya harga Rp1.100 per kilogram itu masih sangat murah, dengan kondisi harga kebutuhan pokok yang serba mahal, mudah-mudahan TBS terus naik,” pintanya.

Menurutnya, idealnya harga di tingkat petani Rp1.500 per kilogram, itu baru sesuai dengan kondisi harga barang sekarang ini yang tergolong mahal bagi kalangan petani.

Meski begitu, ia bersama sejumlah petani lainnya bersyukur karena TBS sudah berangsur naik dalam be­berapa hari terakhir. Petani berharap TBS bisa menembus angka Rp1.700 per kilogram sebelum Ramadan nanti.

Rahmin, petani sawit lainnya menambahkan, kondisi per­eko­nomian petani sangat ditentukan harga TBS. Jika harga sawit turun, pendapatan petani merosot, ekonomi pun lesu, begitu juga sebaliknya saat TBS naik.

“Karena kami sangat tergantung dari harga TBS. Usaha kebun sawit satu-satunya sumber mata pencaha­rian kami selama ini,” kata Rahmin Bancin.[]