LHOKSUKON Mursalin, 25 tahun, warga Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, bersama keluarganya menempati rumah yang sudah tak layak huni. Rumah itu merupakan peninggalan orang tuanya sejak puluhan tahun silam.
Amatan portalsatu.com di lokasi, Selasa, 17 Mei 2016, rumah dengan dinding yang telah lapuk dimakan rayap itu hanya berukuran 5×6 meter. Atap yang terbuat dari daun rumbia mulai rusak dan bolong. Beberapa papan penyangga atap pun mulai berjatuhan. Saat hujan turun, air menerobos masuk dengan mudah.
Rumah kecil itu memiliki dua kamar dengan sebuah ruang tamu dan dapur. Tidak ada jendela khusus karena hanya ditutupi dengan lembaran papan yang juga telah lapuk. Lantai dari semen pun mulai rusak dan hanya ditutupi karpet.
Rumah ini sudah ada sejak saya kecil, peninggalan orang tua. Selama ini saya tinggal bertiga bersama dua keponakan saya. Sedangkan kakak dan abang ipar saya lebih banyak menghabiskan waktu berkebun di bukit. Mereka juga hampir bisa dikatakan tinggal di sana, hanya pulang sesekali, ujar Mursalin.
Mursalin memang memiliki saudara kandung lainnya. Tapi jangankan untuk membantu dirinya, kehidupan mereka juga sama susahnya. Pun demikian mereka tetap membantu semampunya.
Selain perihai meu ubat, menyoe jeut loen lake bak pemerintah, tulong neu bri rumoh yang layak saboh. Adak pakiban pih loen terimong, nyang penteng hana boco le wate ujeun. Nyoe nyang loen eh nyoe kaso baroe meuganto, kasoe awai ka bulut wate ujeun baroe, ujar Mursalin.[] (bna)

