ANKARA Jembatan ketiga yang menghubungkan benua Eropa dan Asia di Istanbul akan dibukan pada Jumat 26 Agustus 2016. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dijadwalkan menghadiri acara.
Jembatan ketiga yang dibangun di atas Selat Bosphorus ini dinamai dengan Yavuz Sultan Selim, Sultan Ottoman (Turki Usmani) abad ke-16, Sultan Selim I, yang pemerintahannya menguasai Timur Tengah.
Pejabat Turki, memperkirakan, jembatan gantung terpanjang ini memiliki sistem jalur kereta api, akan menghemat 1.750.000.000 Dollar AS per tahun dalam hal biaya kerugian waktu dan energi.
Jembatan ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk polusi udara kota serta kemacetan lalu lintas, katanya, sebagaimana disiarkan Anadoly Agency.
Pemerintah menjamin jembatan ini akan dilalui sebanyak 135.000 mobil setiap hari. Biaya untuk mobil pergi dari Eropa ke sisi Asia akan 9,90 Lira Turki ($ 3.4).
Tidak akan ada biaya untuk bagian dari Asia ke sisi Eropa.
Panjang jembatan ini adalah 1,4 kilometer (0,9 mil) dan 59 meter lebar, delapan ruas jalan serta dua rel.
Telah dibangun sebagai bagian dari Northern Marmara Motorway Project, yang telah direncanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama dari proyek telah diselesaikan oleh sektor swasta, yang menginvestasikan sekira 3 miliar Dollar AS.
Dua fase lainnya akan melibatkan pembangunan jalan raya dan jalan sepanjang 257 kilo meter. Semua bangunan ini, diharapkan akan selesai dan tersedia untuk digunakan publik pada tahun 2018.
Pada tanggal 6 Maret, bagian akhir dan tengah jembatan diadakan sebuah upacara yang dihadiri Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
“Ketika kita meletakkan dasar jembatan pada 29 Mei 2013, ada orang yang mengatakan, 'itu tidak akan terjadi'. Ketika mereka mengatakan ini, kami katakan kepada mereka: “Tidak, kita akan menghubungkan Eropa dan Asia dengan Yavuz Sultan Selim Bridge 'dan itu akan menjadi pesan yang paling penting dari kami kepada dunia,” kata Erdogan.
“Hanya mereka yang berpikir besar mampu mewujudkan proyek tersebut,” Kata Presiden Erdogan.
Pada 17 Agustus, Menteri Transportasi, Kelautan dan Komunikasi Turki, Ahmet Arslan, mengatakan bahwa tak ada gangguan terhadap proyek-proyek infrastruktur besar negara meskipun 15 Juli upaya kudeta.
Semuanya berjalan dengan baik, bahkan kalau bisa ini akan kita percepat. Tidak ada kendala teknis atau keuangan untuk menyelesaikan proyek-proyek mega negara, yang mencakup bandara ketiga di Istanbul, pusat keuangan dan rute laut buatan Kanal Istanbul, katanya.[]

