LHOKSEUMAWE Sebanyak 128 sekretaris gampong (sekgam) dan bendahara gampong (bengam) di Kota Lhokseumawe dijadwalkan terbang ke Jakarta, Sabtu, 5 November 2016. Mereka akan mengikuti pelatihan tentang pengelolaan keuangan gampong/desa.
Sekretaris gampong atau sekretaris desa yang berangkat 63 orang, dan bendahara desa atau bendahara gampong 65 orang. Tidak semua (sekgam dan bengam) berangkat dari 68 gampong di Kota Lhokseumawe, ujar Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Kota Lhokseumawe Dr. Iskandar, M.Si., menjawab portalsatu.com lewat telpon seluler, Jumat, 4 November 2016, sore.
Iskandar menjelaskan, sekgam dan bengam sepakat berangkat dari Lhokseumawe ke Medan menggunakan bus. Selanjutnya, mereka menumpang pesawat dari Medan ke Jakarta. Mereka direncanakan mengikuti kegiatan lima hari, termasuk dua hari pergi dan pulang. Namun, ia mengaku tidak ingat nama hotel tempat dilaksanakan pelatihan sekgam dan bengam di Jakarta.
Mereka (sekgam dan bengam) yang membantu geuchik dalam pengelolaan keuangan gampong, maka kita beri pelatihan agar bertambah pintar atau dapat lebih memahami bagaimana penggunaan keuangan yang efektif dan efisien, kata Doktor Sosiologi lulusan Universitas Indonesia (UI) ini.
Iskandar menyebut biaya perjalanan termasuk pelatihan sekgam dan bengam itu dari rekening peningkatan sumber daya manusia (SDM) aparatur gampong dalam Alokasi Dana Gampong (ADG). Dalam APBK Lhokseumawe 2016, kata dia, dialokasikan ADG senilai Rp55 miliar untuk 68 gampong. ADG itu termasuk untuk membayar jerih payah geuchik dan aparatur gampong lainnya, teungku imum, guru balai pengajian, dan lainnya.
Disinggung soal APBK Perubahan (APBK-P) Lhokseumawe 2016 tengah defisit, tapi diduga banyak kegiatan konsumtif termasuk pelatihan aparatur gampong di luar Aceh, Iskandar menyebut, Kegiatan ini tidak ada kaitannya dengan defisit anggaran daerah, karena penempatan ADG dalam APBK merupakan kewajiban pemerintah kabupaten/kota sesuai UU Desa, 10 persen.
(Baca juga: APBK-P Defisit, Hibah dan Bansos Bertambah Rp21 Miliar)
Iskandar tidak ingat total dana untuk kegiatan sekgam dan bengam ke Jakarta. Sedangkan untuk kegiatan yang diikuti geuchik dan pengurus PKK gampong di Lhokseumawe ke Yogyakarta penghujung Oktober lalu, kata dia, biaya kontribusi pelatihan Rp4,5 juta per orang, biaya perjalanan pergi dan pulang Rp3,3 juta per orang. Selain itu, biaya transport dari bandara ke lokasi dan sebaliknya.
Geuchik yang berangkat (ke Yogyakarta) tempo hari 64 orang (dari 68 geuchik se-Kota Lhokseumawe). Selain itu ibu PKK atau istri geuchik. Istri geuchik yang berhalangan, misalnya, sedang sakit, diwakili pengurus PKK lainnya dari gampong setempat, ujar Iskandar.
(Baca: Puluhan Geuchik Lhokseumawe Diterbangkan ke Yogyakarta)
Menurut Iskandar, para geuchik dan pengurus PKK gampong di Kota Lhokseumawe pada penghujung Oktober lalu mengikuti pelatihan dan kunjungan lapangan ke salah satu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kecamatan Bantul, Yogyakarta.
(Untuk sekgam dan bengam) agendanya pelatihan dalam ruangan, narasumber yang dihadirkan dari kementerian terkait. Tapi saya belum tahu apakah mereka nanti juga ada locus, nanti kita tanyakan setelah mereka pulang, kata Iskandar yang mengaku tidak mendampingi kegiatan sekgam dan bengam lantaran sebelumnya telah mengikuti kunjungan geuchik ke Yogyakarta.
Iskandar mengakui jika pelatihan tersebut dibuat di Lhokseumawebukan di Yogyakarta dan Jakartabiaya yang dikeluarkan lebih murah. Akan tetapi, kata dia, hasil yang diharapkan tidak akan maksimal kalau pelatihan digelar di Lhokseumawe. Seperti kegiatan geuchik, misalnya, saat kunjungan lapangan di sana, bisa melihat langsung, menggali informasi, bagaimana capaian orang di sana.
Memang dari 64 geuchik yang telah berkunjung ke Panggungharjo, mungkin tidak semuanya kemudian berubah mindset, tapi 50 persen saja itu sudah luar biasa, pungkas Iskandar.[](idg)

