Menggunakan bahasa secara tepat dan benar tidaklah mudah. Tentu saja diperlukan pengetahuan tentang bahasa itu melalui pelajaran khusus. Pengetahuan berbahasa secara alami saja tidak cukup. Di sekolah, guru mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bahasa yang benar tentang makna kata, bentuk kata, dan susunan kata dalam kalimat.
Ada dua segi bahasa yang utama, yakni bentuk dan isi. Yang dimaksud dengan isi adalah makna, arti, atau maksud yang terkandung dalam bentuk bahasa itu. Bentuk dan isi tentu harus sejalan. Kalau bentuk salah, misalnya susunan kata-kata dalam kalimat tidak teratur sesuai dengan struktur kalimat, arti atau maksud kalimat itu akan kabur atau tidak dapat dipahami.
Mari kita tinjau sepatah kata yang sering dipakai orang, padahal kata itu salah bentuknya. Yang saya maksud adalah kata mengkritisi. Dia mengkritisi bahasa saya bukanlah kalimat yang benar. Kata kritisi adalah kata bentuk sebagai bentuk jamak dari kritikus orang yang ahli mengkritik. Baik kata kritikus, maupun kata kritisi, berasal dari kata kritik.
Kata kritik dipungut dari bahasa Belanda yang padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata kecaman. Kata kerjanya ialah mengkritik atau dikritik. Berikut adalah contoh pemakaiannya.
- Tabiat manusia pada umumnya suka mengkritik, tetapi tidak senang bila dikritik.
- Alm. H.B. Jassin adalah seorang kritikus sastra yang terkenal.
- Kritisi sastra Indonesia sangat sedikit, malah boleh dikatakan orang yang melakukan kerja kritik secara teratur, seperti H.B. Jassin, hampir tidak ada.
Dengan penggunaannya dalam kalimat seperti pada contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bagaimana penggunaan kata-kata itu secara benar dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia tidak ada bentuk kata kerja mengkritisi dan dikritisi. Kedua bentuk itu adalah bentuk yang salah kaprah. Jadi, jangan digunakan. Contoh lain seperti itu, misalnya politik, politikus, dan politisi.
Kesalahan kedua yang sering kita jumpai dalam tulisan-tulisan dewasa ini ialah bentuk kata berpetualang. Kata ini dibentuk dari kata dasar tualang, diberi awalan pe-, lalu diberi lagi awalan ber-. Kata petualang berarti orang yang bertualang. Kata ini tidak mungkin diberi lagi awalan ber- karena maknanya tidak sesuai dengan nalar.
Sebagai bandingannya, dapatkah kata pedagang dan petani diberi awalan ber-, menjadi berpedagang dan berpetani? Tidak mungkin, bukan? Itu sebabnya bentuk berpetualang bukanlah bentuk yang benar.
Dari bentuk dasar tualang (yang tidak dapat digunakan tanpa imbuhan) muncul kata bertualang sebagai kata kerja. Orang yang bertualang disebut petualang dan pekerjaannya itu sendiri disebut petualangan. Hanya ada tiga kata bentukan dari bentuk dasar kata tualang itu, tidak ada bentuk yang lain lagi.
Contoh lain seperti tualang ialah ungsi. Bentuk ini tidak dapat dipakai sendiri tanpa imbuhan. Hanya muncul sebagai mengungsi, pengungsi, mengungsikan, diungsikan, pengungsian, dan mungkin juga bentuk terungsikan.
Berikut contoh dalam kalimat.
- Korban bencana alam itu mengungsi ke tempat yang aman.
- Para pengungsi terdiri atas laki-laki dan perempuan, bahkan orang-orang yang sudah tua dan anak-anak.
- Pemerintah mengungsikan semua penduduk dari daerah bencana itu.
- Jumlah orang yang diungsikan lebih dari seribu orang.
- Tempat pengungsian tidak hanya satu, tetapi beberapa.
- Orang yang terungsikan merasa bersyukur karena luput dari bencana gempa dan tsunami itu.
Sumber: Intisari, Mar. 2005, J.S. Badudu.


