Gulungan awan hitam pekat terlihat di langit langit Kota Madani, Banda Aceh, satu pertanda bahwa hujan akan segera tiba. Namun itu tidak menyurutkan keinginan besar beberapa pemuda di sudut sebuah kedai kopi. Mereka mencurahkan tinta-tinta di atas kertas putih suci sebagai bukti perjuangan pemuda terkini dalam membangun negeri.

Adalah sekelompok pemuda yang bergabung dalam komunitas Alumni Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF), terlihat antusias dan berjiwa besar serta semangat yang tinggi dalam merancang sebuah impian, di kedai kopi itu.

Ini mengingatkan kami pada pernyataan Rektor UIN, Prof Farid Wajdi yang menyebutkan para pemuda duduk di kedai kopi lebih berbahaya dari pada bom atom.

Di dalam sebuah warung sederhana itu muncul berbagai ide-ide dan gagasan dari sekelompok pemuda yang duduk di sudut paling kanan sambil berdiskusi untuk menerbitkan sebuah buku yang bertajuk Pulo Aceh.

“Ini persiapan untuk penerbitan buku yang bertajuk tentang Pulo Aceh, dan menyusun konsep acara peluncurannya di Pulo Aceh,” kata Wildan E-Fadhil, salah seorang peserta silaturrahmi ASHaF di sebuah kedai kopi di kawasan Lampineung, Jumat, 8 April 2016 malam.

Acara pertemuan ini diikuti oleh sejumlah Alumni Sekolah Hamzah Fansuri, sebuah komunitas menulis yang didirikan oleh penulis novel Aceh 2025, Thayeb Loh Angen.

Sektaris ASHaF, T Mukhlis, berhalangan hadir dikarenakan masih melakukan penelitian di kampung halaman. Ia tidak bisa menghadiri rapat tentang jadwal dan tempat meluncurkan buku Pulo Aceh malam itu.

Syukri Isa Bluka Teubai, seorang peserta, mengatakan bedasarkan keputusan rapat, peluncurannya diadakan di Pulau Breueh, pada bulan Mai atau awal Juni 2016.

“Naskah buku tersebut saat ini, tengah diedit oleh Boy Nasruddin Agus. Setelah itu dilayout dan diterbitkan oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh – Turki). Para penulisnya adalah anggota ASHaF, sebagian besar yang ikut Kemah Sastra Hamzah Fansuri pada bulan Februari lalu di Pulau Breueh, Pulo Aceh,” kata Syukri, yang merupakan Koodinator Kemah Sastra Hamzah Fansuri pada bulan Februari lalu.

Penulis: Mustakim, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF)