ACEH UTARA – Suasana penuh kekeluargaan dan khidmat menyelimuti pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) XI Ikatan Pemuda Aceh Utara (IPAU) Banda Aceh yang digelar di Anjong Mon Mata, Kompleks Pendopo Gubernur Aceh, Jumat, 25 September 2026. Ajang pertemuan akbar ini menjadi panggung penghormatan bagi para tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya merawat simpul persaudaraan warga Aceh Utara di perantauan.

Dalam momen emosional tersebut, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayahwa, menyerahkan penghargaan kehormatan kepada sembilan mantan Ketua Umum IPAU dari masa ke masa, sejak periode tahun 1980 hingga 2025. Penghargaan ini menjadi simbol restu dan apresiasi atas dedikasi serta peran strategis para pendahulu dalam menjaga nyala api solidaritas kepemudaan.

Ayahwa menegaskan bahwa kontribusi para mantan ketua ini memiliki arti yang sangat mendalam dalam merawat nama baik daerah di ibu kota provinsi, sekaligus memperkokoh jejaring sosial kemasyarakatan.

“Seyogyanya penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi nyata dalam membangun kebersamaan masyarakat Aceh Utara,” ujarnya.

Sembilan sosok tangguh penerima penghargaan tersebut melintasi sejarah panjang organisasi, dimulai dari Drs. H.T. Alamsyah Banta (Alm) (1980-1992), Ir. H. Taufik, M.S. (Alm) (1992-1997), Drs. H. Saidan Nafi, S.H., M.Hum. (1997-2002), Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si. (2002-2006), Zulhadi, S.Pd., M.Pd. (2006-2011), Sayuti M. Nur (2012-2015), Mukhsin Rizal, S.Hum., M.Ag. (2015-2018), Saifullah, S.Hum., M.A. (2018-2021), hingga Rifki Ismail, S.Ag., M.Pd. (2022-2025).

Ketua Umum IPAU Periode 2022-2025, Rifki Ismail, S.Ag., M.Pd., dengan penuh ketulusan menyampaikan bahwa warisan kejayaan organisasi hari ini merupakan buah dari fondasi kokoh yang dibangun para senior terdahulu. Ia menegaskan, IPAU akan selalu menjadi “rumah bersama” yang hangat, inklusif, dan terus adaptif terhadap gerak zaman. Pada kesempatan itu, Rifki juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama nakhoda kepengurusannya.

“IPAU hadir sebagai ruang belajar dan pengabdian. Kami berharap dukungan semua pihak agar organisasi ini terus berkembang dan memberi manfaat,” ungkap Rifki.

Semangat membangun daerah juga terpancar kuat lewat ruang Diskusi Publik yang berjalan paralel. Diskusi tersebut melahirkan manifesto penting berupa rekomendasi strategis bagi Pemkab, mulai dari penguatan lembaga adat, pembangunan berbasis masyarakat bawah, hingga komitmen nyata menaikkan kelas pendidikan generasi muda.

IPAU Beri Penghargaan untuk Kepemimpinan Ayahwa

Pertemuan ini tak hanya menjadi panggung bagi pemuda. Di tempat yang sama, rombongan pemuda perantauan membalas kebaikan dengan menganugerahkan penghargaan kepada Bupati Ayahwa. Ia dinilai sebagai pemimpin yang memiliki empati, sigap dalam penanganan bencana, serta responsif.

Menerima tanda kehormatan tersebut, Bupati Ayahwa mengaku terharu dan bertekad menjadikan momen ini sebagai perekat abadi antara pemerintah daerah dengan mahasiswa serta pemuda perantauan di Banda Aceh. Ia mengetuk hati seluruh elemen masyarakat—baik ulama, akademisi, hingga mahasiswa—agar mau pulang atau mengulurkan tangan membangun kampung halaman.

“Pembangunan Aceh Utara tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Kami membutuhkan pemikiran, tenaga, dan kontribusi seluruh masyarakat, termasuk generasi muda yang sedang menuntut ilmu di Banda Aceh,” pungkas Ayahwa, menyuarakan semangat gerakan #AcehUtaraBangkit.

Menutup komitmennya, Pemkab Aceh Utara memastikan akan terus mengawal kenyamanan mahasiswa dengan memprioritaskan perbaikan fasilitas asrama IPAU di Banda Aceh serta mengucurkan program beasiswa bagi mahasiswa dan santri demi mencetak generasi emas daerah di masa depan.[](*)