Enam jempol akan saya berikan (bila ada) sebagai apresiasi atas usaha Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh memberikan pelayanan terbaik dalam rangka memanusiakan manusia serta membenah transportasi dan lalulintas mengingat pertumbuhan kendaraan yang meningkat setiap tahunnya di kota ini.
Usaha itu adalah dengan menghadirkan busaway yang dikenal dengan Bus Trans Koetaradja. Kehadiran busaway sebelumnya memang sudah direncanakan sejak 2013 oleh Pemko Banda Aceh. Harapannya mampu menerapkan sistem angkutan massal berbasis serta menciptakan ketertiban, mengurangi kemacetan dan kesemerautan di dunia lalu-lintas kota ini. Ini merupakan tindakan luar biasa yang dilakukan oleh Pemkot dalam perubahan.
Setiap perubahan memang harus ada yag dikorbankan. Itulah umpama yang lebih tepat untuk menyambut tamu baru dalam dunia transportasi Kota Banda Aceh. Tidak lama dan hanya tinggal menunggu peresmian dari pusat, sebanyak 22-32 unit Bus Trans Koetaradja akan mewarnai lalulintas kota ini.
***
Busaway merupakan angkutan umum massal yang mulai banyak digunakan, serta diminati oleh masyarakat di berbagai daerah dalam satu dekade ini.
Kata busaway mungkin sedikit terdengar asing di telinga masyarakat kita, apalagi bila menanyakan bentuknya, pasti terpikir bus tersebut besar seperti Bus Trans Jakarta. Anggapan ini muncul karena sebagian dari masyarakat kita memang ada yang belum pernah naik atau bahkan melihat busway secara langsung.
Berdasarkan pengalaman di Batam dan Pekan Baru, busaway sungguh memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para penumpang. Selain itu, tarif yang dikenakan terbilang murah. Untuk masyarakat umum dikenakan biaya hanya Rp3000/orang, sedangkan pelajar hanya Rp1500/orang.
Karcis yang diberikan untuk sekali jalan dan berguna sampai dengan halte tujuan akhir kita (hanya menunjukkan karcis apabila berganti bus). Meskipun bentuknya hanya minibus seperti damri, busaway dilengkapi dengan AC, pelayanannya yang ramah, dan tidak ugal-ugalan. Namun, untuk menikmati pelayanan dari busaway setidaknya kita sedikit harus berjalan dari tempat tinggal menuju halte terdekat.
Sebaliknya, bila kita menanyakan tentang labi-labi beserta ciri-cirinya dengan cepat dapat dijelaskan sedetail-detailnya oleh masyarakat kita, terutama para ibu, anak sekolah, dan mahasiswa. Semua memiliki cerita tersendiri saat menjelaskan mengenai labi-labi.
Labi-labi merupakan ciri khas dari kendaraan umum di bumi Serambi Mekah. Jenis transportasi ini sudah menemani dan memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh sejak 1980-an.
Labi-labi hanya mampu mengangkut sampai 14 orang penumpang. Rasa kenyamanan dan kepuasan masyarakat terhadap angkutan labi-labi semakin lama semakin berkurang. Ini disebabkan oleh adanya sebagian labi-labi yang memang suka ugal-ugalan, terkadang terlalu lama berhenti menunggu sewa, dan tarifnya yang begitu relatif.
Sejak harga BBM naik, tarif labi-labi mulai dari Rp2000 untuk jarak paling dekat dan bisa mencapai Rp5000 bila jauh (dari Darussalam ke Pusat Kota). Akibatnya, masyarakat lebih memilih membawa kendaraan sendiri. Masyarakat yang tidak memilikinya, mau tidak mau menjadikan labi-labi sebagai pilihan utama meskipun terkadang harus berpanas-panasan dan berdesakan dalam ruangan yang kurang udara bila sudah dipenuhi oleh penumpang.
Sampai saat ini, belum ada kejelasan dari Pemko mengenai bentuk Bus Trans Koetaradja yang nantinya akan mengangkut masyarakat Kota Banda Aceh dan sekitarnya. Ini menjadi pertanyaan tersendiri bagi setiap orang sehingga banyak yang berpendapat, bila ukurannya seperti Bus Trans Jakarta, bukan mengurangi kemacetan, melainkan malah menambah kemacetan.
Mengenai tarif, untuk masyarakat umum sampai saat ini belum ada kejelasan. Yang baru terdengar kabar hanya digratiskan bagi pelajar sekolah, dan mahasiswa bila ada kartu Trans Koetaradja hanya dikenakan setengah harga dari masyarakat umum.
Selain itu, berdasarkan letak koridor dan titik halte busaway yang sudah ada, semua rute hampir mencangkup wilayah yang telah dilalui oleh labi-labi. Ini bisa menjadi bumerang dan permasalahan serius ke depannya bagi Pemko sendiri apabila tidak ditanggapi.
Selain itu, pemerintah juga harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat, terutama di sekolah mengenai peraturan transportasi busaway. Ini karena busaway nantinya menjadi fasilitas yang digunakan oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Karena bila busaway dirasakan sudah aman dan nyaman serta tarifnya yang terjangkau, secara tidak langsung masyarakat pasti dengan senang hati bersedia naik busaway. Daripada harus menggunakan sepeda motor, selain macet, risiko kecelakaan juga lebih tinggi.
Apabila busaway mampu menjawab dan melaksanakannya dengan baik, respons masyarakat juga akan baik. Saya juga setuju dengan pendapat salah seorang senator DPRK Banda Aceh terhadap busaway. Katanya, bila hanya untuk mengurangi kemacetan di kota ini, yang harus dikurangi adalah kendaraan, termasuk membatasi pembeliannya agar kota kita tidak terkesan ikut-ikutan seperti Jakarta dan agar busaway tidak bernasib sama dengan saudaranya (Damri) yang pernah ada di kota ini.
*Penulis: Mhd. Saifullah, Mahasiswa Pendidikan Sejarah, FKIP Unsyiah.

