TAPAKTUAN – Harga cabai merah yang sejak beberapa bulan lalu sempat tembus Rp 80.000 – Rp 90.000/kg, sekarang turun drastis seharga Rp 32.000 – Rp 35.000/kg. Sebab telah lancarnya pasokan barang dari Medan, Sumatera Utara dan pasokan dari petani lokal.

Namun, kondisi tersebut belum melegakan masyarakat sebab harga sejumlah sayur mayur lainnya justru terus merangkak naik.

Hasil pantauan di Pasar Inpres Tapaktuan, Sabtu pagi, 4 Februari 2017, sejumlah sayur mayur yang harganya terus merangkak naik seperti bawang merah dari sebelumnya Rp 12.000/kg sekarang Rp 14.000/kg.

Selanjutnya, tomat medan dari sebelumnya Rp 6.000/kg menjadi Rp 12.000/kg. Kol/kubis dari sebelumnya Rp 3.000/kg sekarang naik menjadi Rp 8.000/kg. Cabai rawit dari biasanya Rp 20.000/kg sekarang naik menjadi Rp 70.000/kg.

Kemudian, wortel dari Rp 2.500/kg sekarang naik menjadi Rp 8.000/kg. Daun sop dari biasanya Rp 5.000/kg sekarang naik menjadi Rp 25.000/kg. Demikian juga labu tanah dari sebelumnya Rp 800/kg sekarang naik menjadi Rp 8.000/kg, termasuk cabai hijau dari sebelumnya Rp 12.000/kg sekarang naik menjadi Rp 35.000/kg.

Salah seorang pedagang yang dijumpai di Pasar Inpres, Tapaktuan, Mak Aceh, 55 tahun, menuturkan, kenaikan sejumlah sayur mayur yang telah berlangsung sejak dua bulan lalu karena pedagang pengumpul barang di Medan, Sumatera Utara mengekspor ke luar negeri sehubungan tingginya permintaan konsumen di luar negeri dengan harga yang jauh berbeda dari dalam negeri.

“Barang-barang sembako termasuk sayur-mayur di Pasar Inpres Tapaktuan ini mayoritasnya di pasok dari Medan, Sumatera Utara. Saat stok barang di medan dalam kondisi normal, harganya pun tergolong normal, bahkan cenderung turun kalaupun naik tidak begitu signifikan. Namun, yang jadi persoalannya sekarang ini adalah, stok barang pada pedagang pengumpul di Medan kadang-kadang kurang sehubungan tingginya ekspor barang ke luar negeri,” ungkap Mak Aceh.

Dia mengaku, sebelum stok barang di tempat usahanya habis jauh-jauh hari telah memesan barang ke pedagang pengumpul di Medan, Sumatera Utara. Namun, ketika barang tersebut secara tiba-tiba juga diminta oleh konsumen luar negeri, mereka justru lebih cenderung melepaskannya ke luar negeri karena terjadi selisih harga yang signifikan dibandingkan harga jual barang ke pedagang pengencer di dalam negeri.

“Kadang-kadang saat kami telpon ke Medan, barang yang kami pesan masih ada. Tapi ketika barang dimaksud secara tiba-tiba diminta oleh konsumen luar negeri, mereka lebih memilih mengekspornya ke luar negeri karena ada terjadi selisih harga cukup signifikan. Kondisi seperti ini secara otomatis berdampak terjadinya kenaikan harga barang di dalam negeri. Karena ketika keberadaan sebuah barang sedang langka atau terbatas secara otomatis harganya pun naik. Sedangkan kami sebagai pedagang eceran di daerah-daerah hanya menjual barang sesuai harga pasaran,” pungkasnya.[]

Laporan Hendrik