Tulisan ini muncul dari kegalauanku tentang pola pikir beberapa orang politisi di Aceh yang punya potensi (kemampuan) untuk menjadi pemimpin di Aceh karena mencalonkan dirinya untuk menjadi gubernur.

Dalam beberapa berita yang disiarkan oleh beberapa media yang banyak pembacanya, mereka mengatakan dengan sungguh bahwa untuk mengatasi pengangguran di Aceh harus mendatangkan investor (pemodal) dari luar negeri atau investor asing.

Cara berpikir seperti itu berbahaya bagi kemajuan Aceh karena itu mempengaruhi mental masyarakat yang memunculkan kesan bahwa mereka tidak akan berdaya tanpa bantuan orang, apalagi itu dikatakan oleh tokoh politik yang berpengaruh.

Sedangkan kita semua dapat melihat kenyataaan bahwa orang-orang di Aceh memiliki kemampuan, baik mereka yang di dalam lembaga pendidikan ataupun di luarnya.

Cara berpikir mendatangkan pemodal asing adalah bentuk dari sebaran ideologi post modern dan neoliberal, yang pada akhirnya menjual kekayaan alam di negeri kepada orang luar secara murah. Sementara orang negeri sendiri menjadi buruh kasar. Buruh kasar inilah yang dipermanis dengan kata majemuk 'lapangan kerja'–menjadi pekerja untuk orang lain di kampung sendiri. Sedangkan yang dibutuhkan untuk memajukan bangsa adalah menciptakan lapangan usaha.

Lapangan kerja yang dimaksudkan itu telah kita lihat empat puluh tahun terakhir, apa yang terjadi dengan dikurasnya gas di Aceh Utara oleh Mobil Oil dan Pertamina yang kemudian dikontrakkan pada PT Arun. Berapa orang Aceh yang bekerja di sana dan pada jabatan apa terbanyak?

Tidak ada apapun yang dapat dibawa oleh orang asing itu–baik dari Cina, Jepang, maupun dari Barat– selain angin surga yang sebelum menjadi apa-apa telah mengikis budaya kita. Yang dibutuhkan—sekiranya memang diperlukan bantuan orang dari negara lain—adalah membantu Aceh untuk bisa mandiri dalam bidang ekonomi dan sebagainya. Apakah para calon pemodal asing itu melakukannya?

Para calon gubernur, bupati, wali kota, sebaiknya melihat kemampuan di Aceh. Bagaimana Aceh bisa memanfaatkan kesuburan tanahnya untuk memiliki ketahanan pangan, swasembada pangan. Juga, bagaimana daya listrik dapat distabilkan, tidak ada pemadaman lagi, dan sebagainya tentang kebutuhan dasar masyarakat.

Berapa banyak uang di Aceh lari keluar wilayah setiap hari untuk membeli makanan dan kebutuhan pokok lainnya? Bayangkan sekiranya itu dapat dihasilkan di Aceh sendiri.

Itu saja kalian pikirkan bagaimana caranya, bukan berpikir untuk menguras isi tanah Aceh yang kemudian masuk ke kantong para kapitalis, dan masyarakat di Aceh disisakan limbah dan alam yang terusak.

Semoga para calon pemimpin itu bukan lagi pengampanye post modern dan neoliberal, bukan antek dari kapitalis, tapi memang calon pembangun bangsa. Berpikirlah untuk membangun anak bangsa sendiri, bukan menjualnya menjadi buruh. Alangkah baiknya kita semua mempelajari politik ekonomi, bukan politik kekuasaan.[]

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.