BANDA ACEH – Kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, menghadiahkan enam lembar display manuskrip tentang fiqih Aceh kepada Wakil Ketua DPR RI, Fadhli Zon, saat meninjau situs Gampong Pande, Banda Aceh, Senin, 23 Oktober 2017. Berdasarkan ilmu filologi keenam lembar display manuskrip tersebut berasal dari abad ke 17 Masehi.

“Berdasarkan watermark pada kertas manuskrip, diketahui ada lambang bulan sabit yang bersusun tiga. Kertasnya berasal dari Valencia (Spanyol) dan itu sudah dipastikan secara filologi,” ujar Tarmizi yang dikenal dengan sebutan Cek Midi tersebut kepada portalsatu.com, Senin malam.

Kepada portalsatu.com, Cek Midi mengungkapkan alasannya menghadiahkan display manuskrip kepada Fadhli Zon di lokasi proyek IPAL. Dia bermaksud untuk menggugah hati para pejabat pusat tersebut dengan karya ulama-ulama sufi Aceh, yang di antara mereka kini bersemayam di Gampong Pande.

“(Di antara) para sufi-sufi itulah yang (bersemayam di Gampong Pande sekarang yang) menulis manuskrip di Aceh,” ujar Cek Midi.

Di sisi lain, Cek Midi juga mengutarakan maksudnya yang memberikan display manuskrip kepada Fadhli Zon. Padahal, ada beberapa anggota DPR RI lainnya yang ikut berkunjung ke lokasi Gampong Pande pada waktu bersamaan.

“Ini sebagai rasa kekaguman saya dan sekaligus mengapresiasi karya-karya Indatu Aceh. Saya sengaja memberikannya untuk Fadhli Zon karena saya menilai dia merupakan orang yang sangat peduli dan intens terhadap pembangunan serta pemikiran budaya yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa ini, termasuk Aceh,” ungkap Cek Midi.

Di sisi lain, Cek Midi juga memberikan display manuskrip tersebut sebagai icon dan pesan agar Fadhli Zon, atas nama pimpinan DPR RI, terus memperhatikan keberadaan situs cagar budaya. Baik itu yang berada di Aceh maupun di seluruh Indonesia.

“(Ini juga) sebagai komitmen, terutama menyangkut Gampong Pande yang sudah dilihat langsung oleh Fadhli Zon. Kenapa harus Fadhli Zon? Ya posisi dia sebagai wakil ketua DPR RI. Saya kagum karena dia mau turun langsung ke lapangan melihat keberadaan situs cagar budaya yang sedang berpolemik panjang ini,” ujar Cek Midi lagi.

Pemberian display manuskrip ini, kata Cek Midi, juga sebagai ikatan moral antara Aceh dengan pimpinan DPR RI agar tetap memperhatikan Aceh. “Terutama bidang kebudayaan.”

Cek Midi berpesan agar Fadhli Zon tidak melihat pemberian display manuskrip tersebut dari bentuk fisik saja. “Namun, lihatlah pemberian ini sebagai bentuk ikatan tali budaya antara Aceh dengan Nusantara ini yang tidak bisa dipisahkan ibarat laut dan pantai.”[]