Erna Safriana. Itulah nama perempuan kelahiran Aceh Besar, 15 Mei 1994 ini. Ia merupakan penerima beasiswa Erasmus Mundus Universitas Zagreb. Beasiswa ini berasal dari Uni Eropa dan dikoordinir langsung oleh Universitas Universitas Gottingen, Jerman. Program beasiswa ini memfasilitasi pertukaran mahasiswa Asia ke Eropa.

Ia berangkat awal September 2015 lalu ke Kroasia, untuk belajar dan menimba ilmu selama satu semester ke depan di sana. Saat ini, Erna masih tercatat sebagai mahasiswa program studi Internasional Akuntansi dan Bisnis,  Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Anak pertama dari tiga bersaudara ini menceritakan, perjalanannya hingga sampai ke salah satu negara Eropa tersebut, berawal dari mengikuti sosialisasi.

“Berawal dari sosialisasi beasiswa Erasmus di Academic Activity Center (AAC) Dayan Dawood Unsyiah,” kata Erna, akhir Desember 2015 lalu, kepada portalsatu.com.

Meski katanya hanya berawal dari sosialisasi, belum tentu semua orang bisa seperti dirinya. Bukan tanpa alasan. Orang yang ingin mengikuti dan mendaftar beasiswa ini, harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Yakni, pendaftar harus bisa berbahasa Inggris dan masih  berstatus mahasiswa aktif dan beberapa syarat yang lain.

“Tapi, untuk keterangan bisa berbahasa Inggris, pendaftar harus melampirkan keterangan toefl certificate atau sejenisnya,” jelas Erana, menegaskan.

Tak hanya itu, pendaftar juga harus melampirkan surat aktif kuliah, surat rekomendasi dari dosen, curriculum vitae, passport, serta kartu hasil studi (KHS) terbaru.

Proses pendaftaran beasiswa ini pun berbeda dengan beasiswa pada umumnya. Semua dilakukan secara individual dan mandiri. Mulai mendaftarkan akun, hingga mengisi formulir di laman yang telah ditentukan.

“Semua prosesnya via online. Setelah semua berkas di-upload, (pendaftar harus menunggu) deklarasi (pemberitahuan) berkas yang harus dinyatakan seratus persen siap. Selanjutnya, tim seleksi di Eropa, tepatnya di Uni Goettingen, Jerman, akan melakukan seleksi,” sebut Erna.

Erna mengungkapkan, pendaftar beasiswa ini ribuan orang jumlahnya yang berasal dari se-Asia. Namun, ia tidak bisa menyebutkan secara rinci, berapa banyak peserta yang mendaftar, yang jelas persaingan sangat terasa.

Penerima beasiswa ini sangat senang. Karena semua kebutuhan peserta ditanggung sepenuhnya oleh Erasmus. Mulai tiket pesawat pulang pergi (PP), biaya hidup, dan sumbangan pembangunan pendidikan (SPP).

“Semua dibayarkan semua oleh pemerintah Eropa,” ucap Erna.

Terdengar aneh memang, ketika dinyatakan lulus, ia sempat merasa galau dan bimbang. Karena ia dihadapkan dengan dua pilihan, antara memilih ke Kroasia atau ikut kuliah kerja nyata (KKN).

“Perasaan galau ketika dinyatakan lulus. Galau, soalnya jadwal keberangkatan beradu dengan jadwal KKN,” kenangnya.

Rupanya perasaan galau itupun seketika hilang, kala Erna lulus mengikuti seleksi KKN Kebangsaan Juni 2015. Akhirnya, ia pun bisa terbang ke Kroasia.

“Setelah pengumuman lulus KKN kebangsaan, baru senang,” katanya.

Ia mengutarakan, kedua orang tuannya menyerahkan semua urusan pendidikan kepadanya, termasuk memutuskan untuk berangkat ke Kroasi.

“Mau pergi, ya silakan. Karena orang tua ndak punya apa-apa, cuma mampu berdo’a,” ucap kisah Erna, menirukan perkataan orang tuanya. Meski demikian, kedua orang tuanya tetap dan selalu mendukungnya.

Erna juga termasuk orang yang aktif berkegiatan di kampus. Dalam mengikuti kegiatan, ia sangat selektif. Menurutnya, kegiatan yang ia ikuti harus selaras dan harus mendukung karirnya.

“Yang paling penting, harus selektif, sungguh-sungguh, harus full funded dalam mengikuti kegiatan. Karena akan sangat bermanfaat untuk karir,” sebutnya.

Ketika ditanyai mengenai pengalamannya naik pesawat, ia mengatakan, sangat suka dengan pertanyaan yang satu ini. “Wah.. (saya) suka dengan pertanyaan itu,” katanya sambil tertawan.

Bisa terbang ke Eropa, jadi kebanggaan tersendiri baginya. Karena, bisa menimba ilmu dan mendapatkan pengalaman baru pula.

“Pertama kali tiba di Kroasia perasaan sangat senang. Melihat keindahan kota, transportsai umum yang bagus, gedung-gedung modern serta unik khas Eropa. Yang jelas, ketika kembali ke tanah air (nanti) sesuatu hal yang baik akan dibawa untuk Indonesia, khususnya Aceh,” katanya.

Meskipun ia terpukau dengan keindahan negara benua biru tersebut, rasa rindu tanah air tetap melanda dirinya. Aktivitas organisasilah yang paling ia rindukan. Sewaktu di Aceh, selain kuliah ia juga aktif berorganisasi. Semisal mengisi training, menjadi peserta training, rapat, bedah buku dan kumpul bersama teman-temannya.

Selama di sana, Erna merasa betah dan tidak merasa kesulitan jika bicara soal makanan. Meskipun pada dasarnya selera dan lidah orang Indonesia dengan orang Eropa jauh berbeda. Namun, ia mengakui kesulitan untuk beradaptasi dengan cuaca.

“Makanan cukup murah, sehat dan enak. Kalau gini nambah lima kilogram berat ku nie,” katanya sambil tertawa.

Dalam perbincangan dengan media ini, ia juga menyampaikan perbedaan pendidikan Indonesia dan Kroasia. Dikatakannya, perbedaan itu bisa dilihat dari fasilitas mupun tenaga pengajarnya.

“Di Kroasia, rata-rata pengajarnya bergelar professor dan fasilitas cukup lengkap. Dan yang jelas Eropa lebih kaya dengan kita (Indonesia),” cetus perempuan yang murah senyum ini.

Tak hanya itu, dari segi kurikulum yang digunakan pun berbeda. Ia mencontohkan, jika di Indonesia dalam proses belajar mengajar hanya membahas  sepuluh pokok bahasan saja, namun di Eropa bisa mencapai dua puluh bahasan.

Mendapat pengetahuan itu, ia yakin Indonesia bisa layaknya negara-negara Eropa tersebut. Perempuan berdarah asli Aceh ini pun berpesan, agar generasi muda Indonesia, khsusunya Aceh lebih peka dan tidak apatis. “Indonesia suatu hari nanti pasti bisa seperti Eropa,” harapnya.

Menurut Erna, kesuksesan tidak lahir dari latar belakang keluarga yang kaya, tapi aktiflah (keaktivan) yang akan mengubah kehidupan. Jika ada kesempatan, katanya, kalau tidak mencoba hasilnya sama dengan nol. Namun, ketika mencoba belum berhasil, setidaknya sudah mendapat pelajaran dari kegagalan tersebut.

“Aktif mendengar, mencari, melihat dan ikut serta dalam even adalah satu langka awal menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan,” kata Erna, yang juga penerima beasiswa Bidikmis ini.

Ternyata, mahasiswa angkatan 2012 ini rupanya telah dianugrahi prestasi. Seperti juara nasional lomba karya tulis ilmiah (LKTI) Dikti 2013, menjadi peserta Jenesys 2.0 Jepang 2014, peserta Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) 2015, dan pernah menjadi surveyor bank Indonesia provinsi Aceh.

Semoga dengan prestasi yang telah diraih Erna Safriana, bisa memberikan suntikan semangat dan motivasi kepada “Cut Nyak Dien dan T. Iskandar Muda” lainnya untuk mengharumkan nama Aceh dan Indonesia di kancah internasional. Semoga saja.[](tyb)