DATANG dan lihatlah, 30 menit sebelum pembagian bubur kanji rumbi di masjid Agung Islamic Center Lhokseumwe. Disana anda akan mendapati puluhan bahkan ratusan pria dan wanita rela berantri ria menunggu dimulainya pembagian Kanji Rumbi oleh panitia Islamic Center Lhokseumawe di bulan Ramadhan 1438 Hijriah ini. Di tangan mereka tampak berbagai wadah plastik untuk menampung pembagian takjil tersebut dari panitia.

Dari penampilannya dan kenderaan yang mereka gunakan untuk hadir ke posko Kanji Rumbi Islamic Center tersebut, kebanyakan jelas-jelas bukan dari “strata” Dhuafa. Padahal Kanji Rumbi sangat banyak dijual di luaran sebagai dagangan pengganan berbuka dengan harga Rp. 5000 seukuran yang dibagikan kepada setiap yang ngantri di Islamic Center Lhokseumawe. Tentu bukan hal yang memberatkan untuk ukuran kantong mereka. Lantas apa yang membuat mereka bersedia antri secara tertib untuk mendapatkan semangkuk bubur khas Aceh tersebut? 

Sejuta alasan tentunya menjadi sebab mengapa mereka sedia antri mengular layaknya di kamp pengungsi perang saat waktu makan. Ada yang mengatakan karena cita rasanya yang special, “lezat, gurih, ada sengam-sengamnya, sangat berbeda nikmatnya dengan Takjil yang banyak dijual di luar sana, meski harganya sangat terjangkau,” kata Nailul, warga Paya Punteut. 

Kanji Rumbi adalah Takjil bubur nasi mirip bubur ayam yang dicampur daging dan tulang, rempah-rempah diantaranya kunyit, jahe, lada cabai dan daun seledri yang diracik secara pas agar mendapatkan cita rasa yang lezat. Setiap Ramadhan, Islamic center Lhokseumawe Kanji Rumbi dibagikan kepada ratusan orang menjelang waktu berbuka puasa di halaman masjid kepada siapa saja yang hadir secara cuma-cuma.

Ada yang menilai faktor non teknis selain cita rasanya penyebab Kanji Rumbi Islamic Center banyak yang mengantri,  “ada nilai kebersamaan di saat kita mengantri,” kata seorang warga ketika selesai mendapatkan bagian Kanji Rumbinya. Dia mengaku sering ke Islamic Center setiap tahun saat menjelang buka puasa, “Suasana Ramadhannya sangat kental di sini,” ungkapnya.

Tetapi ada juga yang menyebutkan sebab lain atas ramainya pengantri Kanji Rumbi di Islamic Center Lhokseumawe, unsur gratisnya dituding sebagai daya tarik yang kuat, “meunjoe free, Gambee mangat,” kata Adly tokoh muda dari Geureudong Pase. 

Tidak menjadi persoalan atas dasar apapun masyarakat mau datang untuk mencicipi Kanji Rumbi di Islamic Center Lhokseumawe, yang paling penting niat penyumbang dana Kanji Rumbi menjadi tersalurkan sebagai sedekah mereka untuk makanan kaum muslimin di kala berbuka puasa.

Semoga menjadi harapan kita semua, pembagian Kanji Rumbi Ramadhan Islamic Center dapat terlaksana sepanjang masa, event tersebut menjadi tradisi positif sebagai ajang silaturahmi dan beribadah dibulan suci Ramadhan. Semoga semua pelaksana yang terlibat mendapat Ridha dari Allah SWT.[]