KETIKA seorang istri mendapatkan pilihan bertahan dalam jerembab duka. Lantas harus mengalami rentannya cibiran dan kejahatan. Semua masalah hingga menyeret persoalan tanoh pusaka.
Sekilas kisah yang lengkapnya dapat dinikmati melalui pementasan Teater Cut Po Marissa produksi UKM Teater Nol Unsyiah malam ini di Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh, Jumat, 19 Mei 2017, pukul 20.00 WIB.
Tercatat dalam pementasan Teater Nol Unsyiah pada 2016 silam di Balai Kota saat teater kampus tersebut mengisi acara Peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, mereka menguak kisah rumah tangga yang sepatutnya menjadi perhatian penonton, bahwa perempuan-perempuan kerap mengalami duka-lara, kisah kehidupan yang bagi kalangan seniman teater justru membutuhkan garapan serius sebab bertujuan untuk mendapatkan ruang refleksi maupun katarsis melalui karya seni.
Beni Arona selaku sutradara Cut Po Marissa dari adaptasi naskah Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi berharap pementasan kali ini sekurang-kurangnya mampu mengungkit kembali reaksi kaum perempuan untuk menyatakan sikap sebagai bagian yang penting dalam laku moral-sosial di kehidupan mini bernama rumah tangga. Garapan Beni kali ini juga dipenuhi lawakan yang setidaknya mampu menyiasati kegetiran para tokoh.
Adapun para personil produksi yang didukung penuh oleh Taman Seni dan Budaya Aceh dan Dikbudpar Propinsi Aceh naskah bertema perempuan tersebut antara lain: Pimpinan produksi: Laila Marfirah, Astrada: Winda Utamy (sutradara naskah Ling-Lung, sukses dipentaskan 2015), Para aktor: Cut Rj, Muchsal, Famita, Raiyana, Kurnia, Mahmudiah, Penata artistik: Miswar, Penata cahaya: Dian El-Madny, Penata musik Ferlijan Abdima, serta Penata kostum & rias: Fitria.
Kurnia Rezeki selaku salah satu aktor pementasan kali ini berharap penonton dapat menikmati serta memperoleh oleh-oleh berupa pesan-pesan penting terhadap kaum perempuan, terutama terkait poligami yang bagi sebagian besar kaum perempuan memiliki kesan tersendiri khususnya di Aceh. Rahasia rumah tangga boleh saja menjadi lakonan di atas pentas, tetapi selama itu mewaraskan pemikiran dan membuka cakrawala paling orisinil melalui perwatakan yang serius pula.
Pentas teater adalah juga dunia kita untuk menjawab dunia nyata dalam menghadapi kebekuan dan stagnasi ide atas konflik hidup yang ada.Kepo, Cut Po Marissa melayang dalam ide sebagai taji atas pilihan antara perasaan dan logika.
Konon, kepo adalah sikap yang kerap menyerang orang-orang penakut dalam menguak kebenaran. Bagi seorang Cut Po, sebagai perempuan Aceh tulen akankah membuka setelanjang-telanjangnya guratan diri di pentas Taman Seni & Budaya Aceh yang kian terbuka itu pula dalam menjaring dan memberikan tempat bagi para seniman semua kalangan.
Selamat menyaksikan rahasia perempuan yang diduakan, ditigakan dan diempatkan justru untuk maksud hendak diSATU-kan oleh suaminya.[]
Penulis: Muhammad, M. Pd



