LHOKSEUMAWE – Cut Winda Sari (18), kini mampu menghafal 20 juz Alquran. Ironisnya, hafizah di Lhokseumawe ini harus berhenti kuliah lantaran faktor ekonomi keluarganya.
Gadis kelahiran 11 Oktober 2000 itu tinggal di Dusun Sanggamara, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Ayahnya, TM. Murdani (48), nelayan yang mencari ikan di laut menggunakan boat kecil. Namun, sebulan terakhir Murdani tidak melaut karena boat-nya rusak dan ia dalam kondisi sakit-sakitan. Sedangkan ibunya, Mulyani, hanya ibu rumah tangga.
Ditemui portalsatu.com/ di rumahnya, Senin, 4 Maret 2019, Cut Winda menceritakan, mulanya ia belajar membaca aksara Arab saat menjadi siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti. Ia kemudian masuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti. Tamat MTs, Cut Winda melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lhokseumawe. Setelah lulus MAN, Cut Winda kuliah mengambil Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengaku menghafal Alquran sejak tahun 2012. Ia bisa menghafal Alquran setelah bergabung di Lembaga Tahfizh Al-Quran (LTQ) Ibnu Abbas, Gampong Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, di bawah pimpinan Ustaz Muhadar. Saat itu, ia belajar menghafal Alquran secara rutin setiap Magrib hingga usai shalat Isya. Pertama sekali, ia menghafal surah Al-Baqarah.
“Proses penghafalan Alquran membutuhkan waktu yang panjang. Mulanya, saya terinspirasi dari teman-teman hafiz, sehingga saya pun berupaya untuk mendalami Alquran. Alhamdulillah, sekarang sudah mampu menghafal Alquran 20 juz, dan saat ini masih terus pendalaman menghafal Alquran,” ujar Cut Winda.
Ketekunan Cut Winda menghafal Alquran membuatnya mendapatkan kesempatan mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) hingga meraih berbagai penghargaan sejak 2013 sampai 2018.
Cut Winda meraih juara II Cabang Hifdzil Al-Qur'an 10 juz kategori putri pada MTQ tingkat Provinsi Papua XXVII tahun 2018 di Kabupaten Nabire. Sebelumnya, ia mendapatkan piagam Sanggamara Panglima Kodam Iskandar Muda juara III MTQ kategori putri dalam rangka HUT ke-72 TNI tahun 2017, dan piagam penghargaan MTQ tingkat Provinsi Aceh XXXIII tahun 2017 di Kabupaten Aceh Timur.
Selain itu, Cut Winda memperoleh juara II MTQ cabang Tahfidhul Qur'an 10 juz yang diselenggarakan LDK Al-Furqan STAIN Malikussaleh Lhokseumawe 2016. Ia juga mendapat sertifikat peserta MTQ ke-33 tingkat Kecamatan Banda Sakti, di Masjid Jamik, Gampong Lancang Garam pada 2015.
Cut Winda menerima piagam penghargaan dari Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, sebagai peserta MTQ XXXII tingkat Kota Lhokseumawe di Kecamatan Blang Mangat tahun 2014. Ia mendapat piagam penghargaan MTQ Provinsi Aceh XXXI di Kota Subussalam 2013, dan beberapa penghargaan lainnya dalam MTQ.
“Dari prestasi tersebut, saya pernah menerima bantuan dari lembaga Muslim Aid Inggris, sejak SMP sampai SMA mendapat dana Rp300 ribu perbulan. Juga bantuan dana dari Baitul Mal Aceh Rp8 juta, dan uang hadiah dari MTQ tingkat Kota Lhokseumawe Rp1,5 juta,” kata Cut Winda.
Setelah itu, kata Cut Winda, sampai saat ini ia tidak lagi memperoleh bantuan apapun dari pemerintah. Hafizah 20 juz dari keluarga kurang mampu ini akhirnya harus berhenti kuliah karena faktor ekonomi.
Cut Winda mengaku sakarang ia aktif di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Kota Lhokseumawe. Aktivitasnya saat ini mendidik para santri untuk bisa menghafal Alquran di LPTQ tersebut, baik tingkat SMP maupun SMA.
“Karena saya saat ini sudah terhenti proses perkuliahan di IAIN Lhokseumawe sejak semester pertama 2018 lalu. Akibat faktor ekonomi yang tidak memadai (kekurangan biaya) untuk melanjutkan kuliah, maka untuk mengisi keseharian saya dengan cara mengajar di LPTQ,” ungkap Cut Winda.
Cut Winda selama ini juga sering menderita sakit lambung. Ia sempat diopname dan baru keluar dari rumah sakit, beberapa hari lalu.
Dia mengaku sangat ingin bisa aktif kuliah kembali. “Tapi tidak cukup biaya,” ujar Cut Winda dibenarkan ayahnya, TM. Murdani. “Kendala saya sekarang adalah keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan tinggi, karena saya dari keluarga kurang mampu,” katanya.
Sementara itu, pemerhati sosial di Lhokseumawe, Herman Ibrahim, mengatakan, pemerintah harus memberikan perhatian serius kepada hafiz dan hafizah, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, seperti Cut Winda Sari di Gampong Ujong Blang.
“Pemerintah, pihak kampus dan juga kita semua harus benar-benar peduli kepada para generasi muda penghafal Alquran. Pemerintah harus mempunyai skala prioritas, baik terhadap pembinaan kepada generasi muda maupun dalam membantu warga miskin yang memiliki prestasi. Sehingga jangan sampai ada penghafal Alquran yang putus kuliah karena faktor ekonomi,” ujar Herman usai mengunjungi Cut Winda di rumahnya.
Herman menilai, Cut Winda luput dari perhatian sampai hafizah itu terpaksa berhenti kuliah akibat faktor ekonomi keluarganya, karena pemerintah selama ini tidak melakukan pendataan ke gampong-gampong. “Pemerintah perlu melakukan pendataan para generasi muda dengan berbagai potensi yang dimiliki di setiap gampong,” katanya.[]

