When we are gone, do not look for our tomb in earth, but find it in the hearts of people.
Maulana Rumi
Di sela terbatasnya referensi untuk mendulang sisi etimologi Bahasa Indonesia di lokasi saya berada sekarang, maka kata “nisan” untuk sebuah batu bertulis yang biasanya ditegakkan di sisi pusara seseorang itu memang faktanya merupakan tradisi kuno yang hanya ada di spesies manusia. Lalu mungkinkah kata nisan dalam bahasa Indonesia itu memang “pelintiran” dari kata insan yang juga berarti manusia? Entahlah! Barangkali sisi itu tidak perlu ditelaah lebih jauh.
Akan tetapi, apapun asal muasal kata itu, hubungan antara insan yang bernyawa, lalu setelah wafat, dengan sebuah batu nisan bertulis yang ditempatkan di sisi pusaranya adalah fenomena berharga di kehidupan yang menyiratkan beragam makna. Dan tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa, ketika manusia masih bernapas di bumi, maka kita semua punya nama yang dengannya disapa dan dikenal, sedangkan setelah wafat, maka nama kita akan diabadikan ke batu nisan yang dengannya anak cucu kita di kemudian hari bisa mengenal diri mereka sendiri dan juga dari mana mereka berasal.
Batu nisan tidak selayaknya dilihat hanya sebatas penanda material di sisi pusara, tapi juga ada aspek-aspek lain yang selayaknya diambil sebagai pelajaran. Dan menurut saya, pesan Maulana Rumi di atas perlu menjadi renungan kita bersama, sebab sebuah batu nisan di sisi pusara tak akan dihargai atau dilihat sebagai hal penting bila pemilik pusaranya tidak turut hadir di hati masyarakatnya.
Aceh yang pernah menjadi protektorat Ottoman pada era kesultanan dulu hingga saat ini masih selalu dielu-elukan oleh generasi muda Aceh, bahkan ada kesan “apresiasi” itu cenderung menguat. Namun sewaktu saya ke Istanbul dan Konya di Turki, lalu berziarah ke makam-makam ulama dan para pejuangnya, maka terlihat jelas bagaimana batu-batu nisan dan makam-makam itu berdiri indah dan megah — bak lentera terang benderang di kegelapan hiruk pikuk sosial masyarakat Turki yang akrab dengan budaya Eropa. Kendati demikian, batu nisan dan makam-makam itu masih terus menjadi icon budaya dan pusat spiritualitas masyarakat Turki sehingga mampu memberikan aura dan aroma tersendiri yang memecut semangat hidup baru di masyakat Turki untuk terus berkarya dan membangun peradaban.
Sementara dalam konteks Aceh, saat ini kita baru terbangun dari keterlelapan yang panjang dan alhamdulillah kini kesadaran masyarakat Aceh untuk peduli dan mengapresiasi kembali batu-batu nisan dan makam-makam endatu mereka cenderung menguat. Semua itu tidak terlepas dari jasa dan semangat membara teman-teman untuk terus mengusung obor revolusi sejarah dan budaya Aceh, sekaligus untuk menjungkirbalikkan stigma radikalisme Islam yang mengatakan bahwa pemeliharaan dan pembudayaan batu nisan dan makam para endatu Aceh itu bertentangan dengan ajaran Islam.
Padahal bagaimana mungkin para endatu kita yang merupakan pejuang Aceh atau para ulamanya misalnya, sebut saja seperti Laksamana Malahayati, Iskandar Muda, Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsyuddin as-Sumatrani, Syeikh Abdullah Kan'an, Syeikh Baba Daud, Teungku Syiah Kuala, Cut Nyak dien, Cut Mutiah, Teungku Muhammad Saman Di Tiro, Teungku Chik Pante Kulu dan lain-lain akan membiarkan ada makam-makam ulama mereka yang monumental dan batu-batu nisan bertulis yang faktanya bertebaran di seluruh pelosok Aceh selama ratusan tahun jika hal itu diharamkan oleh Islam? Apakah kita akan bilang bahwa Islam dan peradaban kita di Aceh sekarang sudah lebih baik dari para endatu kita yang kesultanan mereka mampu berdaulat selama ratusan tahun?
Oleh sebab itu mari kita bangun kecintaan bersama untuk menghargai batu-batu nisan dan makam para endatu! Sebab tak bisa kita nafikan bahwa secara material, batu nisan di pusara mereka terbukti mampu mengajak generasi muda Aceh untuk mengapresiasi sejarah leluhur mereka. Tapi jangan lupa! Karena ada pula sisi maknawi (non-material) dari batu-batu nisan dan makam-makam mereka tersebut yang layak kita jadikan pemantik kesadaran lain, yaitu kesadaran spiritualitas dalam beragama, bermasyarakat dan berbudaya.
Melalui kesempatan ini, saya berharap agar Pameran Kontemporer Mengenal Batu Nisan Aceh yang diselenggarakan oleh Museum Aceh dengan bekerjasama dengan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumut-Aceh bisa terus berlanjut setiap tahunnya.
Selain itu saya juga berharap agar batu nisan dan makam syuhada Inong Balee, para Sulthanah sejak era Malahayati bisa kembali dilestarikan dan diperingati, khususnya oleh perempuan Aceh. Semoga ke depan akan semakin banyak arkeolog, sejarawan, dan budayawan muda Aceh dari kaum perempuan.
“The Study of History is the beginning of political wisdom”
Jean Bodin
Penulis: Shadia Marhaban, aktivis politik dan perdamaian Aceh, pendiri LINA (Liga Inong Aceh).

