REDELONG – Korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Bener Meriah tercatat 29 jiwa dan hilang 23 orang. Pengungsi mencapai 38.294 jiwa dan warga terisolir 46.611 jiwa tersebar di 72 desa dalam enam kecamatan.
Data sementara itu dari BPBD Bener Meriah hingga Minggu, 30 November 2025, pukul 23. 59 WIB.
Rincian data 72 desa di enam kecamatan masih terisolir yaitu Kecamatan Pintu Rime Gayo 23 desa terisolir 17.138 jiwa warga. Kecamatan Gajah Putih 10 desa terisolir 10.396 jiwa warga.
Kecamatan Mesidah 15 desa terisolir 6.325 jiwa warga terisolir. Kecamatan Syiah Utama 14 desa terisolir 2.799 jiwa warga.
Kecamatan Permata 6 desa terisolir 6.014 warga. Kecamatan Timang Gajah 4 desa terisolir 3.939 warga terisolir.
Jaringan listrik, telepon, dan internet di Bener Meriah dilaporkan masih putus. Sementara warga mulai panik karena kesulitan mencari beras dan bahan bakar minyak (BBM).
Pihak berwenang terus melakukan pendataan, evakuasi, dan memperbaiki akses jalan untuk menembus desa-desa terisolir.
Pemda Bener Meriah terlihat kelabakan menangani dampak bencana ini dan berharap respons cepat dari pemerintah pusat serta Pemerintah Aceh.
”Tolong, Bapak Presiden Prabowo, secepatnya berikan kami bantuan, mumpung cuaca sedang bagus. Kami khawatir, kalau datang lagi hujan akan mempersulit warga,” ungkap Aman Adi, salah seorang warga Bener Meriah, Rabu, 3 Desember 2025.
Banjir dan longsor di pengujung 2025 ini merupakan bencana paling berdampak parah di Bener Meriah dan membutuhkan respons cepat pemerintah.
Jembatan, Gorong-Gorong, Box Culvert Terputus
Sementara itu, Dinas PUPR Kabupaten Bener Meriah merilis, sedikitnya 122 jembatan, gorong-gorong, dan box culvert terputus akibat bencana hidrometeorologi.
Plt. Kepala Dinas PUPR Bener Meriah, Al Fahmi, menyampaikan data tersebut dalam rapat evaluasi penanganan bencana dan melaporkannya kepada Sekretaris Daerah selaku Ketua Tim Penanggulangan Bencana Kabupaten Bener Meriah.
“Ke-122 titik tersebut tersebar di 10 kecamatan dengan status jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten hingga jalan produksi pertanian. Informasi ini berdasarkan survei yang dilakukan Dinas PUPR. (Sebanyak) 122 titik ini belum termasuk badan jalan yang amblas dan tertimbun longsor,” ungkap Fahmi, dilansir laman Pemkab Bener Meriah, 1 Desember 2025.
Fahmi menyebut untuk bisa melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi terhadap infrastruktur publik tersebut membutuhkan waktu, biaya, dan sumber daya yang besar. “Agar semua kembali pulih dan akses-akses kembali normal,” ucapnya.[]
Laporan: Arsadi Laksamana dari Bener Meriah




