SUBULUSSALAM – Tokoh muda Subulussalam dan Aceh Singkil, Syafriadi, meminta pemerintah memberikan perhatian serius kepada Kecamatan Longkib. Pasalnya, kondisi masyarakat dan perkampungannya masih jauh tertinggal dari daerah lain akibat akses jalan belum layak.

“Peristiwa dialami warga Gampong Darussalam (Kecamatan Longkib) juga dialami desa-desa lainnya yang mendiami pinggiran sungai di kawasan itu. Sejak dulu kondisi desa itu belum berubah,” kata Syafriadi, S.P., yang kini menjadi Ketua Forum Pemuda Aceh Singkil Serantau (For Pass) kepada portalsatu.com, Jumat, 6 Mei 2016, malam.

Dijelaskannya, warga Kecamatan Longkib dulunya menggunakan transportasi boat melalui sungai dari Rundang, yang jika menempuh perjalanan ke Singkil mencapai 8 jam. Sedangkan ke kota Subulussalam sekitar 20 kilometer, dan sekarang masuknya perusahaan perkebunan sudah terbuka akses jalan, sehingga perjalanan ke Kota Subulussalam ditempuh 2 jam.

“Hanya belum diaspal, bila kemarau berdebu dan kalau musim hujan tidak bisa dilalui. Warga setempat sangat bergantung dengan kendaraan perusahaaan yang keluar,” ujar Syafriadi.

Syafriadi menjelaskan, ada dua konsentrasi masyarakat di Kecamatan Runding. Yang tinggal di sekitar perkebunan, kebanyakan warga asal Pulau Jawa karena pernah menjadi area transmigrasi, namun akses jalan masih sulit dilintasi. Sedangkan warga lokal sebagian besar berada di pinggiran sungai.

“Kemungkinan warga yang berada di tepi sungai itu yang mengalami kesulitan, karena selain jauh juga kondisi jalan yang belum layak, sulit dilalui dengan kendaraan biasa,” ujarnya.

Menurut dia, kehadiran perusahaan perkebunan baru tiga tahun silam, sebelumnya akses jalan yang menghubungkan kota Subulussalam dengan desa-desa di Longkib sangat jauh, dan Kecamatan Longkib baru saja dimekarkan.

“Kecamatan ini masih tertinggal, perlu penanganan pemerintah secara serius. Jangan pula bergantung kepada perusahaan, karena rakyat harus diurus oleh pemerintah,” tandas Syafriadi.[]