SANAA – Yaman telah dirundung konflik kejam sejak Maret lalu. Lebih dari 5.000 orang kehilangan nyawanya. Sebagian besar adalah warga sipil. Penduduk lainnya masih bisa selamat menyambung nafas, namun mereka berhadapan dengan penderitaan, jurang kelaparan.
Konflik, pertempuran, perang saudara atau apa pun sebutannya ini telah menjadi tontotan berisiko tinggi bagi penduduk. Pemeran utamanya adalah pemberontak Houthi dan pasukan setia mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang melawan pasukan setia pemerintahan Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi.
Ibu kota Yaman, Sanaa telah menjadi saksi pengrusakan akibat perang. Kota yang termasuk dalam daftar situs Warisan Dunia UNESCO itu telah dirusak serangan udara. Salah seorang warganya, Hisham al Omeisy mengatakan para penduduk telah hidup dalam kesengsaraan.
“Sering sekali mereka berharap serangan udara mengakhiri penderitaan mereka,” kata dia.
Pada Al Jazeera, ia menceritakan kehidupannya sehari-hari di tengah perang, termasuk pandangannya terhadap gencatan senjata tujuh hari. Ada banyak harapan dari pihak internasional pada kesepakatan gencatan senjata itu. Ketika pertama kali diumumkan, ide itu seperti sempurna.
“Namun bagi kami yang mengalami pahitnya konflik, itu hanya menawarkan sedikit harapan,” kata al Omeisy. Menurutnya, pemberitaan media tentang manfaat gencatan senjata dan efek nyatanya pada kami itu sangat membingungkan.
Para penduduk menyambut dengan tidak antusias. Pasalnya, meskipun serangan udara dihentikan, tapi pertempuran darat terus mengamuk.
Selama hampir sembilan, perang Yaman telah menghancurkan kota, jalan, infrastruktur, ekonomi, struktur sosial hingga harapan penduduk. Sekarang ada lebih dari 2,3 juta orang yang mengungsi. Sebanyak 80 persen populasi sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Pelayanan dasar seperti listrik, bahan bakar, makanan, air, obat-obatan sangat kurang. Kondisi diperburuk dengan blokade komersil. Yaman mengimpor 90 persen makanan dan bakar. Al Omeisy mengatakan blokade bahan dasar itu tidak bisa ditangani oleh gencatan senjata.
Listrik telah menghilang sejak beberapa bulan lalu. Kelangkaan gas membuat penduduk berusaha mengirit makanan sebanyak mungkin. Mereka mengais-ngais demi bertahan hidup, di tengah gemboran bom harian.
Bisnis komersil seperti restoran dan kafe terpaksa ditutup. Harga bahan pangan kian meroket. Ayam yang biasanya ada di setiap meja ketika makan, kini harus rela dimakan sepekan sekali. Daging bahkan jarang terlihat.
“Kami orang-orang Yaman telah mencoba bersatu dan memasang wajah berani, tapi hidup ini sudah tidak normal sama sekali,” kata dia.
Kehidupan sehari-hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Sebagian besar hanya mencoba untuk melalui hingga hari berikutnya. “Jika tidak ada terobosan yang lebih besar, ini tidak akan merubah suasana mengerikan di jalan-jalan Yaman,” kata dia.[]
Sumber: republika.co.id



