SUBULUSSALAM – Dialog Publik yang diselenggarakan oleh Pengurus KAMMI UIN Ar-Raniry 2024, yang dilaksanakan setelah acara pengukuhan kepengurusan di aula Teater LP2M UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 3 Februari 2024.
Dalam Dialog Publik menghadirkan dua pemateri, H Musannif, S.E., S.H Ketua DPP Pemuda Muslim RI dengan sub tema “Urgensitas Pemahaman Politik Bagi Regenerasi Muslim” dan Tgk Mustafa Husen Woyla, S.Pd.I Ketua DPP ISAD Aceh dengan Sub tema “Antara ulama dan ruang politik”.
Dialog Publik ini, dihadiri oleh banyak para penggerak mahasiswa, mulai dari intra kampus, hingga ekstra kampus.
Dalam penyampaaiannya, Musannif lebih dulu menyinggung perihal partai, hari ini di Indonesia mayoritas penduduk muslim, namun yang banyak memenangkan politik, itu dari partai-partai yang berasaskan nasionalisme, bukan yang beraskan Islam, hal itu tidak perlu diherankan lagi, hari ini nilai tawar partai-partai yang berasaskan Islam, tidak begitu memiliki perbedaan dengan partai-partai yang lain.
Ia juga menyampaikan, hari ini, negara sedang tidak baik-baik saja, mari lakukan pembaharuan, ini juga bukan masalah mendukung paslon 01, 02 atau 03, tapi bicara mengenai bagaimana mengembalikan keadaan Indonesia yang sedang tidak waras menjadi waras kembali.
Nasih banyak hal yang sampaikan Musannif terkait dengan perpolitikan di negara Indonesia ini, pesan terakhir dari dari Musannif “Bagi anak-anak muda seperti kalian, banyakkan membaca buku, kuatkan literasi, karena bisa jadi ke depan kalian akan dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang lebih berat dari pada ini,” katanya.
Kemudian dari Tgk. Mustafa, memaparkan bahwasanya peran ulama dalam kepemerintahan itu sangat urgen, bahkan bisa dilihat dari sejarah, begitu banyak literasi Islam, yang menyebutkan kemajuan-kemajuan Islam tidak luput dari perpaduan antara ulama dan umara.
Terakhir Tgk Mustafa Woyla menyampaikan, Money politik bisa jadi Soft Lauching dari kedatangan Dajjal, hanya dengan uang Rp100 ribu atau sembako sudah tumbang, apalagi dengan Dajjal dengan segala kekuatannya, kelak.
Tim perumus dialog yang diketuai oleh Khairul Rahmad bersama dengan pengurus KAMMI UIN Ar-Raniry merekomendasikan beberapa hal untuk perbaikan Aceh, Indonesia secara umumnya untuk ke depannya.
Pertama, menyatakan Indonesia sedang tidak baik-baik saja, perlu aksi nyata semua pihak untuk memperbaiki keadaan yang ada. Terutama pemerintah pusat dan daerah. Kedua, berharap pejabat negara aktif netral dalam politik praktis.
Ketiga, Berharap pemerintah pusat kembalikan supremasi hukum di Indonesia. Keempat, jadikan ulama sebagai salah satu pegangan utama dalam menjalankan aturan terutama syariat di bumi Aceh. Dan kelima, selamatkan generasi agar tidak jadi perusak (Begal).[] (ril)





