BANDA ACEH – Fauzi Umar mengaku sedih melihat foto pemotongan pohon cemara di bantaran Krueng Aceh, Minggu, 25 Desember 2016. Hal tersebut ditulisnya melalui akun facebook yang kemudian tersebar di dunia maya.
“Merasa sedih sekali mendapat posting gambar pagi ini, pohon-pohon cemara laut (casuarina equsetifolia) yang saya tanam pada tahun 2001 dan 2002 bantuan Dinas Kehutanan Provinsi Aceh di bantaran Krueng Aceh yang menambah kesejukan dan keindahan Kota Banda Aceh telah ditebang,” tulis Fauzi.
Dia mengaku sangat kesulitan pada saat menanam pepohonan cemara tersebut. Fauzi bahkan mengerahkan sejumlah mahasiswa dan masyarakat setempat untuk menanam deretan pepohonan cemara ini.
“Keluarga saya harus membuat nasi rantangan untuk orang bekerja agar menjaga tanaman bisa tumbuh dengan baik, dan menjaga dari gangguan ternak. Kini tanaman sudah besar dan dirasakan manfaat serta turut menambah keindahan dan kesejukan Kota Banda Aceh,” tulis Fauzi lagi. (Lihat Foto: Dinas Cukur Pohon Cemara Jalan Tepi Krueng Aceh)
Portalsatu.com kemudian mengonfirmasi kisah penanaman pepohonan cemara ini kepada Fauzi Umar melalui sambungan telepon, petang tadi. Dia membenarkan kisah yang ditulis di akun facebooknya tersebut.
“Benar (saya yang tanam) dari mulai jembatan Pante Pirak hingga ke arah Krueng Lamnyong,” katanya menjawab portalsatu.com.
Menurutnya pada awal menanam pepohonan cemara ini sangat sulit karena banyak hewan ternak seperti kambing dan lembu di kawasan tersebut. Pada awalnya bahkan banyak memperkirakan penanaman pohon cemara proyek Dinas Kehutanan Aceh itu tidak akan tumbuh.
“Namanya aja kita baru selesai kuliah, kita kerjain apa yang ada, ya kan?”
Pun demikian, Fauzi Umar tidak menyalahkan sepenuhnya kebijakan menggunduli pepohonan cemara yang ada di sepanjang jalan Pante Pirak menuju arah Krueng Lamnyong tersebut. Dia hanya mempertanyakan alasan menggunduli pepohonan cemara ini.
“Kita lihat dulu, untuk apa itu. Dalam konteks apa. Kalau misalnya penjarangan atau kemudian pemangkasan itu, itu proses pemeliharaan. Tapi kalau digunduli seperti itu, tidak jelas itu,” kata pria yang sekarang bekerja di BPKS Sabang tersebut.
Dia menyebutkan pada dasarnya keberadaan pepohonan cemara ini menambah keindahan kota. Apalagi banyak yang mengaku sejuk dan nyaman saat melewati kawasan tersebut.
“Pastinya sedih lah (saat tahu itu digunduli) karena kita berkejar-kejaran dengan hewan ternak kan,” katanya lagi.
Dia menyebutkan jika ada permasalahan-permasalahan tertentu sehingga pihak pemerintah kota menggunduli pepohonan cemara ini, Fauzi menganjurkan agar ada tanaman pengganti di kawasan tersebut. “Agar Banda Aceh itu tetap asri, apalagi Kota Banda Aceh itu sedang menggalakkan kota sebagai kota wisata. Orang kan menginginkan kota yang nyaman, yang sejuk, yang asri. Kan kota Banda Aceh, kota berbunga ya kan? Apalagi di kiri kanan sungai itu, di front sungai itu (banyak pepohonan cemara) kan cantik sekali itu kan?” katanya.
Portalsatu.com masih mencoba mengonfirmasi Kepala Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh, Jalaluddin, untuk mengetahui alasan pemangkasan pepohonan cemara di bantaran Krueng Aceh tersebut. Namun, beberapa kali portalsatu.com mengontak nomor handphone pribadi milik Jalaluddin tidak tersambung.[]


