PERTANYAAN: Menurut Anda, Bagaimana cara supaya Aceh bisa mandiri dalam bidang ekonomi sehingga setiap saudagar dan pengusaha serta orang berpenghasilan tinggi ikut andil membangun, serta penduduk yang selama ini kekurangan bisa punya penghasilan memadai.
Jawaban Dr Husaini Hasan:
1. Kembali pada sejarah éndatu (nenek moyang) Aceh. Bagaimana kita mandiri malah menjadi pionor di Selat Melaka. Keubutuhan primer kita cukup untuk diri kita di Aceh, malah bisa kita export ke luar negeri. Beras kita melimpah. Pembagian air untuk sawah diatur dengon adil. Wakil parit (irigasi) paling di dalam administrasi gampông. Bukan dialirkan air ke sawahnya saja, tetapi gotong royong semua untuk penduduk gampông.
Minyak, kita produksi sendiri. Penduduk gampông semua tahu cara memerah minyak dari minyak kelapa. Dan penggunaan pohon kelapa maksimal sangat efektif. Dari pohon kelapa tidak ada yang terbuang sia-sia. Semua bisa digunakan. Buahnya bisa menjadi, air kelapa (coconut water) bisa diekspor sekarang, daun kelapa bisa dianyam sebagai alas atau penutup. Lidinya menjadi sapu, pohon kepala sekarang bisa menjadi papan, laku kalau kita kirim ke Eropa, sebab penghuni rumah di Eropa tidak menyukai dingin yang berasal dari jenis batu atau marmar tapi mereka suka jenis kayu karena panas.
Untuk gula kita buat gula aren, manisan kepala, enau, tebu, dan lainnya. Kita oleh sedikit lagi utuk diubah menjadi gula putih. Dalam dunia sekarang gula bukan dari temu saja, tapi dari gula bit (segi empat), begitu juga dengan minyak. Kain pakaian kita pok teupeuën (pintal) sendiri. Bahan untuk benang bisa kita oleh sendiri dari kapas dan sutera. Sutera Aceh di masa dulu dikenal di seluruh dunia, tidak kurang kualitas dari sutera Jepang dan Cina. Begitu juga dari sumber daging dan susu. Ayam, telur, kambing, lembu, kerbau, semua kita pelihara sendiri di gampông.
Kebudayaan Aceh yang bagus dan positif ini perlu kita hidupkan kembali dan kita efektifkan secara menyeluruh di gampông. Sehingga penduduk gampông laki-laki-perempuan semua ada pekerjaan. Home-industri dan hand-craft itu perlu dihidupkan dan bila perlu disubsidi oleh peumeurintah dan didirikan koperasi untuk mencegah tengkulak-tengkulak Cina dalam monopoli harga dan mengacaukanm ekonomi rakyat. Inilah tugas peumeurintah untuk menjaga hasil produksi rakyat, dari segi harga harus stabil, kualitas harus standar internasional, pembibitan, pemeliharaan/pendjagaan hingga untuk pengawetan dan pengalengan, serta pemasaran dan promosi harus kita ekspor ke luar negeri.
2. Sekarang masa kebangkitan ekonomi Asia. Aceh harus ikut serta dalam rentak kebangkitan ini. Barang-barang yang dihasilkan dari home industries harus bisa diekspor dan kita pasarkan ke luar negeri. Mesin-mesin lama, alat pintal, cara bertani dulu kita sesuaikan dengan sistem yang modern sekarang. Kerajinan tangan seperti membat tas, tali pinggang, baju anak-anak, sepatu, dan lainnya kita majukan sesuai dengan selera pasar hari ini. Banyak sekali yang bisa dicontoh dan dibeli hari ini. Tidak perlu hanya melihat di Eropa, tetapi dari Asia pun banyak yang bisa dipelajari, Thailand, Cina, Jepang, Brazillia, Argentina, dan lainnya.
3. Infrastruktur harus diutamakan oleh Peumeurintah Aceh. Transportasi masyarakat umum perlu lancar. Jalan-jalan gampông ke kota harus bagus dan terpelihara. Yang paling bagus memang harus ada kereta api (listrik) yang memadai. Begitu pula dengan bus umum harus sampai ke jalan gampông.
Penggunaan jalan jalur air/sungai. Mengenai jalur transportasi air/ kanal yang digali ini bagus dipelajari dari Venesia atau Holland. Sebab Aceh banyak sekali sungai yang bisa digunakan. Sungai Krueng Raya Banda Aceh, sungai Krueng Meureudu, Sungai Kruëng Peudada, Sungai Kruëng Ni, Sungai Kruëng Simpang Wië, dan lainnya. Semua bisa diefektifkan.
Boat-boat dan tongkang disesuaikan dengan keadaan sungai. Mungkin likok-likok (lekuk-lekukan) sungai perlu diluruskan sehingga bisa dibuat jalur pipa-pipa panjang, itu kita serahkan kepada insinyur-insinyur kita. Infra struktur ini harus siap sehingga memudahkan pengangkutan barang-barang hasil pertanian dan peternakan dari pedalaman sampau ke kota-kota dan ke pelabuhan-pelabuhan untuk ekspor. Jangan sampai hasil-hasil pertanian dan peternakan ini membusuk sendiri dan melemahkan seumangat penduduk gampông.[]
Catatan: Tulisan di atas adalah pernyataan Dr Husaini Hasan (Dr Husaini M. Hasan, Sp.OG) yang dikirimnya dari Brisbane, Australia, ke surat elektronik Thayeb Loh Angen pada 4 Desember 2016, untuk keperluan wawancara buku Kebangkitan Aceh” yang ditulis oleh Thayeb Loh Angen. Di antara beberapa orang tokoh, Husaini Hasan adalah salah seorang narasumber yang diwawancarai untuk buku tersebut.

