MANUSIA sebagai seorang khalifah (pemimpin) dimuka bumi ini. Salah satu cara berinteraksi dengan sesama adalah lewat berkomunikasi. Kebutuhan manusia untuk berkomunikasi, diibaratkan seperti fungsi aliran darah yang mengalir di tubuh mereka. Hal ini dibuktikan dengan sejarah Nabi Adam AS, kepada siapa ia hendak menyampaikan perasan dan pikirannya. Oleh sebab itu Allah SWT, menciptakan Hawa sebagai pasangan Adam agar tersalurkannya perasaan dan pikirannya.
Dalam literatur sejarah ,banyak yang menyebutkan beberapa peninggalan-peninggalan manusia purba seperti, simbol-simbol dan tulisan-tulisan yang beraneka ragam bentuknya semua itu menjelaskan mengenai bahasa dan cara berkomunikasi yang berlaku pada masyarakat tersebut. Di samping itu, ditemukan bahwa kemampuan manusia berkomunikasi tidak terbatas pada sesama manusia saja, melainkan, juga berkomunikasi dengan suatu dzat yang dianggap sebagai Tuhan, Dewa, atau benda-benda yang diyakini mempunyai kekuatan magis.
Ari Ginanjar Agustian dalam karyanya, Meneladani Kecerdasan Rasulullah, menyebutkan ada puncak tertinggi dari setiap proses kehidupan umat manusia. Bagi umat yang beragama puncak itu adalah Tuhan yang transenden. Untuk mencapai puncak itu tidak mengharuskan kita terlibat dalam dunia transenden. Bahkan realitas transenden yang sulit ditangkap oleh panca indra harus diwujudkan dalam bentuk aktivitas nyata dalam kehidupan sosial.
Sementara itu Daniel Golenan dalam tulisannya berjudul Working With Emotional Intellegence: (Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi), beliau menutarakan bahwa proses interaksi dalam seluruh tataran sosial tidak bisa ditumpukan pada logika rasio (kecerdasan intelektual atauintelligence quotient: IQ) yang cenderung lineir dan sistemik. IQ memerlukan adanya dimensi lain sebagai penyeimbang, berupa kecerdasan emosional yang lebih dikenal dengan Emotional Intellegence. EQ terwujud melalui kemampuan mengenali, memahami perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.
Kecerdasan emosional lebih berpusat kepada rekontruksi hubungan yang bersifat horizontal (sosial), sementara itu ada dimensi lain yang tidak kalah pentingnya bagi kehidupan umat manusia, yaitu hubungan yang bersifatvertical (transcendental), kemampuan ini sering disebut dengan istilah kecerdasan spiritual (spiritual intelligence: SQ). Kecerdasan ini adalah kemampuan menghadapi dan memecahkan makna dan nilai, menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, agar jalan hidup lebih bermakna. SQ adalah landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Terjadinya berbagai bentuk tirani, despotism, kesewenang-wenangan, ketidak-adilan, eksploitasi manusia atas manusia, sebagai konsekuensi logis dari para dai yang tidak memfungsikan SQ-nya (Abdul A'la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan: Evaluasi kritis atas sejarah pemerintahan Islam, (Bandung: Mizan, 1996), cet. Ke-6, h.15.)
Sementara itu Syeh Adil Rasyad Ghanim dalam maha karyanya berjudul Bersikap Islami: Tinjauan Pedagogis dan Psikologis, beliau menyebutkan bahwa Sikap dan prilaku seorang dai akan terpantul dari pola dan cara berfikirnya SQ sebagai sebuah cara berpikir yang integral dan holistic akan membawa seorang dai pada arah yang baik dan benar. SQ yang dilandaskan pada dimensi transcendental bisa menjadi control abadi bagi seorang dai, karena dia sadar setiap langkah dan policy diambilnya selalu ada kontrol dari Yang Maha Esa. Kalau hanya mengandalkan pikiran rasional dan emosional, banyak hal yang bisa direkayasa dan luput dari pengawasan manusia, sebaik apapun sistem pengawasan yang telah dibentuk. SQ yang menjadi fokus dalam penelitian ini bukan hanya SQ sebagai jenis pemikiran ketiga yang dibahas dan diperkenalkan oleh Dahar dan Lan Marshal yang telah dibuktikan secara ilmiah dan tidak bersifat transcendental. Akan tetapi disini penulis akan memadukannya, yang bersifat ilmiah (biologis dan psikologis) dan transcendental dalam perspektif Islam.
Berdasarkan dari pemaparan diatas, dapat dirumuskan dan dibatasi permasalahan bahwa, pemanfaatan dan peranan SQ sangat urgent bagi seorang dai dalam berkomunikasi dengan umat. Dalam penelitian ini akan menjadi titik sentral kegiatan penelitian adalah bagaimana peranan SQ tersebut bagi seorang dai terhadap prilaku komunikasi dengan umat dalam melaksanakan kewajibannya dalam bidang dakwah.[]


