ANKARAP – Presiden Recep Tayyip Erdogan, Rabu, mengindikasikan bahwa Turki akan melanjutkan pembelian sistem rudal S-400 dari Rusia karena Turki sudah kewalahan menunggu pemasok lain.

Kesepakatan tersebut telah mengundang kekhawatiran di kalangan sekutu NATO Turki karena sistem pertahanan udara Rusia tidak sesuai dengan sistem pertahanan udara anggota NATO lainnya.

“Mereka kalang-kabut karena kita membuat kesepakatan S-400. Lalu apa yang harus kita lakukan? Menunggu mereka? Kita telah mengambil tindakan keamanan dan akan terus melakukannya,” kata Erdogan dalam pertemuan walikota dari partai pimpinannya, di Ankara. 

Awal pekan ini, Erdogan disebutkan telah melunasi pembayaran pertama untuk S-400. Total seluruhnya diperkirakan bernilai USD 2,5 miliar. 

Vladimir Kojin, pembantu Presiden Rusia Vladimir Putin, Selasa, mengkonfirmasi bahwa sebuah kontrak telah ditandatangani. 

“Saya hanya bisa menjamin bahwa semua keputusan yang dibuat berdasarkan kontrak ini sangat sesuai dengan kepentingan strategis kami,” katanya kepada kantor berita TASS.

Kompatibiltas sistem S-400 adalah yang menjadi kekhawatiran utama NATO. 

“Kami telah menyampaikan kekhawatiran kami kepada pejabat-pejabat Turki mengenai rencana pembelian S-400,” kata juru bicara Pentagon Johnny Michael kepada CNBC, Selasa.

“Sebuah sistem pertahanan rudal NATO masih menjadi pilihan terbaik untuk menlindungi Turki dari ancaman penuh di wilayah tersebut,” 

Maret, Menteri Pertahanan Fikri Isik mengatakan bahwa Turki ingin membeli sistem rudal dari salah satu mitra NATO, namun mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan atas teknologi atau harga.

2013, Turki memilih bekerja sama dengan perusahan CPMEIC untuk sistem pertahanan udara jarak jauh, namun kemudian membatalkan kesepakatan tersebut di bawah tekanan NATO. Dua tahun kemudian, baterai rudal Patriot NATO ditarik dari Turki.

Dalam beberapa tahun terakhir, Turki telah membangun industri pertahanan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok asing.

S-400 adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh tercanggih milik Rusia dan dapat membawa tiga jenis rudal yang mampu menghancurkan sasarannya, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah. Ia juga dapat melacak hingga 300 sasaran dalam satu waktu, dan memiliki ketinggian 27 kilometer.[]Sumber:anadolu agency