KEHIDUPAN dunia itu laksana seorang petani yang menggarap lahannya. Tentu saja yang di dambakan sebagai bekal untuk akhirat yang kita dambakan adalah keuntungan. Betapa tidak enaknya manakala kita menjadi pedagang yang rugi. Hal ini karena, disamping karena tidak memperoleh keuntungan, modal yang dimilikipun bisa berkurang dan habis yang membuatnya menjadi sangat sulit untuk bisa berdagang lagi, kecuali dengan cara berutang.
Filosofinya laba itu perbuatan sunat sebagai pendukung ibadah wajib, sedangkan modal seorang tajir (pedagang) umpama kewajiban yang di bebankan kepada seorang mukallaf. Kerugian dan bangkrut merupakan ekses dari melakukan tindakan diluar norma agama atau dengan bahasa lain dosa dan sejenisnya.
Sebagai hamba Allah yang berperan sebagai seorang pedagang selayaknya manusia harus bisa menjalin hubungan yang sebaik-baiknya kepada Allah Swt. Prosesi ini di dalam Islam kita mengenal dengan istilah taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) atau hablum minallah (hubungan kepada Allah) dalam bahasa yang lain disebut hubungan vertical juga hubungan horizontal dengan manusia dan alam sekitar harus di tempuh dengan sebaik mungkin pula.
Manakala hubungan kepada Allah telah kita lakukan dengan sebaik-baiknya, akan kita peroleh keberuntungan dalam kehidupan kita di dunia dan akhirat, sedang bila sebaliknya yang terjadi adalah kerugian yang nyata. Ada beberapa bentuk hubungan buruk kepada Allah Swt. yang bisa mendatangkan kerugian. Diantara bentuk perdagangan yang menghasilkan kerugian adalah durhaka kepada Allah yang juga berarti durhaka kepada Rasul-Nya, Allah memerintahkan sesuatu kepada manusia, tapi dia tidak mau mentaati perintah itu.
Allah Swt telah mengatur manusia dengan aturan yang baik, tapi manusia tidak mau diatur oleh aturan Allah dan Rasul-Nya, padahal aturan itu akan membawa kemaslahatan bagi manusia itu sendiri sehingga tercegah dari segala bentuk kerusakan. Kemurkaan Allah akan ditunjukkan kepada manusia, ini merupakan kerugian yang besar sebagaimana terdapat dalam firman-Nya dalam surat Ath-Thalaq yaitu:
Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-Rasul-Nya, maka Kami hisab mereka dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar (QS Ath-Thalaq :8-9).
Tidak sedikit manusia berhasrat dan menginginkan sebuah perbuatan yang di ilustrasikan sebagai bentuk perdagangan yang mendatangkan kebangkrutan besar tanpa disadari salah satu adalah dengan menyekutukan Allah, baik dengan menuhankan sesuatu selain Allah maupun beramal bukan karena Allah, yakni ada unsur riya atau mengharapkan pujian orang lain dalam amalnya, merupakan salah satu bentuk hubungan yang buruk kepada Allah Swt, karenanya Allah sangat murka kepada orang yang melakukan kemusyrikan seperti itu meskipun tergolong syirik yang kecil, sehingga amal-amal yang telah dilakukannya di dunia meskipun nampaknya baik, tetap saja tidak ada nilai apa-apanya di akhirat kelak, ini merupakan kerugian yang sangat nyata. Ancaman Allah Swt kepada orang menyekutukan Allah (musyrik) yaitu:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi (QS Az-Zumar: 65).
Sebagaian orang melihat syirik itu hanya dalam konteks amaliah agama, sehingga dengan membabi buta memberondong kaum pelaku amaliah dengan peluru syirik dan sejenisnya. Padahal apa yang dituduhkan belum tentu benarnya. Sebagai contoh mereka yang pergi ke kuburan para ulama dan waliyullah untuk bertabaruk, dianggap syirik, padahal mereka meminta bukan kepada waliyullah atau ulama tersebut, tetapi hanya menjadikan mereka sebagai wasilah untuk tersampaikan hajat dan mereka para penziarah menyakini demikian dan tetap beranggap itu tercapai semua atas qudrah dan iradah Allah Swt.
Namun aneh bin ajaibnnya mereka yang saban hari melakukan dan meyakini dalam kacamata esensi syirik tidak dianggap syirik. Salah satu contoh realita dalam masyarakat, seorang yang menyakini dengan menyokalahkan dan jadi sarjana hingga professor akan cerah masa depannya ketimbang harus belajar ke dayah atau pesantren untuk berkutat dengan ilmu agama akan ditindas dan digilir zaman alias tidak ada masa depan yang cerah. Apakah ini tidak syirik dengan menyakini gelar akademika sehingga menjadi PNS bisa menjamin masa depan anak-anak mereka, sebab disana ada suatu kekuatan ghairullah (selain Allah) yang bisa memberi bekas kepada manusia? Kemudian seorang yang sakit kepala minum obat dengan menyakini obat bisa menyembuhkan, itu juga bukan syirik? Jelaslah kedua jenis perbuatan tersebut merupakan syirik dengan asumsi setiap perbuatan yang dapat memberi bekas selain Alah merupakan katagori perbuatan syirik.
Marilah kita mencoba untuk terus mengumpulkan laba di dalam perdagangan dunia ini dengan mengurangi dosa dan maksiat sebagai simbol terkikisnya usaha perdagangankita. Teruslah kita menambah laba sebanyak banyaknya dengan meningkatkan amal ibadah kita walaupun laba itu kecil dan berusaha untuk perlahanlahan tapi pasti mengurangi maksiat meskipun dosa kecil. Kita juga tidak boleh meremehkan hal yang kecil sebab ridha Allah SWT tidak tersembunyi pada hal kecil begitu juga marah dan murka tidak tertutup kemungkinan juga pada hal kecil pula.
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq
Wallahu 'Alam..[]
Ditulis oleh Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga.


