Oleh: Qusthalani, M.Pd*

Pemerintahan Jokowi-JK dalam perumusan visi misn kepemerintahannya menyematkan kata “Revolusi Mental” sebagai sebuah bagian yang sangat penting terhadap seluruh komponen bangsa termasuk, anggota  masyarakat  Indonesia.  Gagasan  revolusi  mental  ini digagas  sebagai  respons terhadap karut-marutnya  kondisi  bangsa,  terutama  dengan  maraknya  kasus-kasus (krisis  moral)  yang  tidak  mencerminkan  karakter  bangsa  Indonesia. 

Melihat  kondisi seperti  itu  (krisis  moral),  revolusi  mental  menjadi  hal  yang  penting  untuk  segera melakukan  perubahan  ke  arah  yang  lebih  baik.  Perubahan  dapat  dimulai  dari  cara berpikir,  cara  memandang  masalah,  cara  merasa,  cara  memercayai/meyakini,  cara berperilaku dan bertindak. Dengan demikian revolusi mental ini sangat berkaitan erat dengan  karakter dan budaya manusia itu sendiri.

Dewasa ini karakter-karakter masyarakat semakin memprihatinkan.  Perilaku-perilaku  menyimpang tersebut dilakukan oleh masyarakat dengan  tidak memperhatikan akibat yang ditimbulkan oleh mereka bagi lingkungan. Contoh kecil  dari perilaku-perilaku mereka adalah pencurian, tindakan asusila, tawuran, pelanggaran HAM, korupsi, kekerasan dalam  rumah tangga dan  lain-lain. Perilaku tersebut menggambarkan bahwa kondisi karakter bangsa ini semakin memburuk dan tertuju pada para generasi penerus bangsa.

Penerus bangsa terutama siswa beberapa tahun belakangan menunjukkan peningkatan terhadap penyimpangan karakter. Yeni (2014) menyebutkan “penyimpangan karakter siswa terbentuk karena pengaruh lingkungannya, baik di sekolah maupun keluarga”. Penyimpangan-penyimpangan tersebut beberapa tahun belakangan ini terus meningkat khususnya di Aceh Utara.

Tahun 2015 beberapa kasus tawuran telah terjadi di Kabupaten Aceh Utara, seperti pada bulan November 2015 terjadi tawuran antara SMA dan SMK di ibu Kkta kabupaten tersebut, hanya diakibatkan oleh persoalan saling ejek (Serambi, 2016). Bulan Desember pada tahun yang sama juga terjadi pengeroyokan terhadap salah seorang temannya di sekolah karena diakibatkan oleh persoalan perebutan pacar sampai saling ejek (Kompas, 2016). Beberapa kasus terhadap kekerasan terhadap gurunya di sekolah juga sering terjadi. Tahun 2014 kasus di Paya Bujok Aceh Utara, telah terjadi penganiayaan oleh siswa SMK terhadap gurunya sendiri disebabkan oleh sering dimarahinya siswa tersebut di depan kelas (Kompas, 2014). 

Kasus-kasus tersebut hanya sebagian kecil dari beberapa penyimpangan karakter anak bangsa. Penyimpangan-penyimpangan tersebut harus diantisipasi dari sejak dini untuk menumbuhkan penerus bangsa yang berkarakter dan penyimpangan-penyimpangan tersebut dapat diminimalisir. Karakter yang baik sangat diperlukan untuk memajukan  atau membangun suatu bangsa hingga menjadi sebuah bangsa yang hebat. Eksitensi suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki oleh para penduduknya karena hanya bangsa yang memiliki karakter yang kuat yang mampu menjadikan dirinya sebagai bangsa yang bermartabat dan diseagani oleh bangsa-bangsa yang lain. Bangsa yang ingin maju, berdaulat dan sejahtera membutuhkan generasi penerus yang memiliki karakter-karakter yang kuat.

Beberapa mengindikasikan  bahwa  bangsa  Indonesia  sebagai  bangsa yang  besar  yang perlu  merevitalisasi  pendidikan  karakter  bagi generasi  penerus.  Melalui  proses  pendidikan  karakter,  generasi  penerus Indonesia  dididik  untuk  memiliki  kemampuan  yang  optimal  dalam  mengembangkan dan  memberdayakan  potensi  dirinya  sebagai  warga  negara  yang  mempunyai kewajiban untuk mempertahankan harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia. Tujuan  akhir  dari  pendidikan  karakter  yaitu agar mereka di kemudian hari dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada bangsa  dan  Negara.  Pendidikan  karakter  suatu bagian  yang  integral  untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mandiri, berdaya saing, dan  berperadaban  unggul  dalam  percaturan  global  dengan  landasan  nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Kebutuhan akan pendidikan karakter bangsa yang secara imperatif sebenarnya  telah  tertuang dalam  Tujuan  Pendidikan  Nasional,  Pasal  3  Undang-Undang  Nomor  20  Tahun  2003  tentang  Sistem Pendidikan  Nasional.  dinyatakan  bahwa  pendidikan nasional “bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang  beriman  dan  bertakwa  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  berakhlak  mulia,  sehat, berilmu,  cakap,  kreatif,  mandiri,  dan  menjadi  warga  negara  yang  demokratis  serta bertanggungjawab”.  Di  dalam  rumusan  tujuan  pendidikan  nasional  tersebut secara  jelas  dan tegas  telah  mengamanatkan  kepada pemimpin bangsa  untuk  membangun  kualitas  manusia  Indonesia harus  disertai  dengan  pelaksanaan  pendidikan  karakter.  Oleh  karena  itu,  rumusan tujuan  pendidikan  nasional  menjadi  dasar  pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam  pengembangan  pendidikan  karakter bangsa.

Keberhasilan  pendidikan  karakter akan sangat tergantung kepada stakeholder yang berperan didalamnya. Pendidikan karakter bisa dimulai dari sejak dini di lingungan keluarga, kemudian masyarakat berperan aktif dalam memfungsikan kontrol sosialnya kepada anak muda di lingkungan sekitar, sekolah yang merupakan rumah kedua dari anak remaja juga memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter anak muda sekarang. Penulis hanya akan membahas dari sisi ethnososio di sekolah, karena penulis beranggapan sekolah merupakan tempatnya para masyarakat intelektual sudah pasti banyak inovasi dan kreativitas dalam  membiasakan anak melakukan hal-hal yang positif sehingga akan membentuk sebuah karakter positif pula.

Ethnososio dan Nilai Karakter Bangsa

Penanaman nilai-nilai karakter bangsa di  sekolah  akan  sangat  tergantung pada  peranan  guru-guru  di  sekolah.  Guru-guru  selain  mengajarkan  materi  pokok sesuai  dengan  bidang  studinya,  mereka  juga  harus  mengisinya  dengan  karakter  apa yang  sesuai  dengan  tema  atau  topik  pembelajaran  di  kelas  (integrasi  dalam pembelajaran). Untuk itu inovasi guru dalam mengembangkan pendidikan karakter di sekolah  menjadi  sesuatu  yang  sangat  penting  dan  menentukan  dalam  upaya menumbuhkembangkan  karakter  dalam  diri  peserta  didik,, melihat hal tersebut sebenarnya ada sebuah jalan keluar yang bisa menjadi solusi yang tepat untuk permasalahan ini, salah satunya adalah lewat pendekatan soial budaya (ethnososio).

Penanaman nilai karakter melalui pendekatan ethnososio dapat  dimaknai  sebagai  upaya  yang  terencana untuk  menjadikan  peserta  didik  mengenal,  peduli,  dan  menginternalisasikan nilai-nilai sehingga peserta didik menjadi insan kamil melalui pendekatan sosial budaya suatu bangsa. Pendidikan karakter tersebut  diartikan  sebagai  suatu  system  penanaman  nilai-nilai  karakter  kepada warga  sekolah  yang  meliputi  komponen  pengetahuan,  kesadaran  atau  kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesana, lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang sempurna.

Pendekatan ini bisa menjadikan anak didik merasa dekat dengan daerahnya dan tidak terasa asing ketika ada peraturan-peraturan yang mengarahkan si anak untuk berbuat sesuatu. Pendekatan ethnososio itu antara lain adalah permainan-permainan tradisional, karena permainan tradisional telah lahir sejak ribuan tahun yang lalu yaitu hasil dari proses kebudayaan zaman dahulu yang masih kental dengan nilai-nilai kearifan lokal meskipun sudah sangat tua.

 

Misbach (2007) menyebutkan bahwa “permainan tradisional memiliki peran edukasi yang sangat manusiawi bagi proses belajar seorang individu. Secara alamiah permainan tradisional mampu menstimulasi berbagai aspek-aspek perkembangan seseorang individu yaitu: motorik, kognitif, emosi, spiritual, ekologis dan nilai-nialai moral”. Permainan tradisional maupun kebudayaan tradisional mampu mengajarkan anak-anak dengan berbagai keilmuan yang ada. Keilmuan tersebut akan membentuk karakter anak menjadi lebih baik dan terarah.

Indonesia merupakan negara yang besar yang memerlukan para generasi penerus bangsa yang mempunyai karakter yang kuat. Indonesia adalah negara yang mempunyai ragam suku,budaya dan Agama.dengan begitu, tentu ada banyaknya permainan tradisional di Indonesia, antara lain tari Seudati, tari Saman, tari Ranub Lampuan, dan banyak lagi. Tari-tarian tersebut dulunya diyakini dapat mengobarkan semangat perjuangan masyarakat Aceh untuk melawan penjajahan, hal ini terbukti karena tari seudati pernah dilarang keberadaannya pada masa penjajahan Belanda (Hasyimi, 1985).

Tarian tersebut dahulu digunakan oleh para pengajar Islam masa itu untuk menanamkan karakter-karakter yang baik melalui lantunan-lantunan syairnya, berbagai kisah cerita tentang persoalan-persoalan hidup dibawakan dalam tarian ini yang dinyanyikan oleh seorang yang bernama  syeh. Masyarakat akan mendapat petunjuk pemecahan problem-problem kehidupan mereka sehari-hari, syair tari-tarian ini selalu disesuaikan dengan masalah yang sedang terjadi dalam masyarakat. Syair dalam tarian tersebut juga banyak mengandung pesan-pesan moral, nasihat dan kisah–kisah inspirasi yang mampu sedikit demi sedikit mendidik karakter-karakter seorang individu,dan peristiwa yang diyakini pula dahulu Ulama-ulama di Aceh mempergunakan tari seudati ini sebagai media dakwah untuk menyebarluaskan agama islam dan mampu menjelma sebagai wahana pendidikan karakter yang menyenangkan.

Di samping berfungsi sebagai instrumen komunikasi budaya, dalam tari Aceh tersebut juga terkandung berbagai nilai kebudayaan yang positif bagi pencerdasan publik di Aceh. Dengan kata lain, Tari tarian Aceh adalah salah satu media yang pernah digunakan penguasa Aceh di masa lampau untuk mencerdaskan masyarakatnya. Menurut penelitian dan pendapat para ahli sejarah bahwa tarian dan seni Aceh muncul bersamaan dengan kedatangan Islam ke daerah Aceh. Tarian ini di masa lalu merupakan suatu media yang digunakan oleh para penyebar Islam untuk menyebarkan Islam di Aceh.

 Ratoh yang berarti menyampaikan cerita tentang apa saja yang berhubungan dengan aspek sosial-kemasyarakatan, seperti cerita tentang kisah sedih atau gembira, kisah yang dapat membangkitkan semangat untuk berjuang atau suatu nasehat dalam mempertahankan negara dan agama Allah Swt. Sebagian besar dari para pendakwah yang menyebarkan agama Islam berasal dari Arab atau berlatar belakang pendidikan agama menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar. Maka, bahasa atau istilah yang digunakan dalam penyebaran Islam tunduk kepada istilah Arab.

Ratoh sebagai suatu media di masa lalu banyak dipengaruhi oleh istilah Arab pada waktu yang bersamaan. Sebagai contoh, istilah shah?d?ty, shah?datayn atau saman, istilah tersebut masih digunakan hingga sekarang. Pada waktu yang lalu, seni tari Seudati muncul di Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Utara. Namun dewasa ini, tarian tersebut telah tersebar ke berbagai penjuru dan pelosok di wilayah Aceh. Makna dalam tarian Seudati tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai ajaran Islam dari proses pembentukannya hingga tampil di depan publik, karena memang Seudati dihadirkan sebagai instrumen atau media dakwah oleh penciptanya (Kartomi, 2009).

Tarian ini juga dipengaruhi oleh keadaan politik dan sosial yang sedang berlangsung di masyarakat Aceh. Pengaruh politik dalam tarian tersebut dapat ditemukan dalam strategi perang yang dinamis dan strtegis, seperti perubahan formasi gerakan tarian dan sistim komando dalam memberikan perintah kepada anggota tari sehingga memberikan pesan-pesan tersendiri.

Penanaman nilai pada siswa sekolah maknanya bahwa pendidikan karakter baru  akan  efektif  jika  tidak  hanya  siswa,  tetapi  juga  para  guru,  kepala  sekolah dan tenaga non-pendidik disekolah harus terlibat dalam pendidikan karakter.  Pendidikan karakter adalah  proses menanamkan  karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat  menjalankan  kehidupan.  Dengan  kata  lain,  peserta  didik  tidak  hanya memahami  pendidikan  sebagai  bentuk  pengetahuan,  namun  juga  menjadikan sebagai bagian dari hidup dan secara sadar hidup berdasarkan pada nilai tersebut.[]

*Guru SMAN 1 Matangkuli dan Ketua IGI Kabupaten Aceh Utara