BANDA ACEH – Rapat pleno Komisi Independen Pemilihan atau KIP tingkat kabupaten/kota telah selesai dilaksanakan sejak Rabu hingga Kamis, 22-23 Februari 2017 kemarin. Artinya, KIP telah menentukan siapa saja kandidat yang berhasil meraih suara terbanyak, yang nantinya akan memimpin daerah masing-masing sesuai pilihan rakyat.

Namun, ada sejumlah fakta menarik dan unik yang terjadi di Pilkada kali ini. Diantaranya tumbangnya dinasti Ampon Bang di Nagan Raya hingga munculnya meme Kota 100 Ribe.

1. Runtuhnya Dinasti di Nagan Raya

Nagan Raya merupakan salah satu kabupaten pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat, yang lahir pada 10 April 2002 berdasarkan UU No. 4 Tahun 2002. Sejak kabupaten ini berpisah dari kabupaten induk, T Zulkarnaini ditunjuk menjadi bupati. Kepemimpinan pria yang kerap dilakap Ampon Bang itu berlangsung hingga 2017, yang artinya dia berkuasa selama 15 tahun.

Setidaknya, dalam tiga periode pemilihan tersebut tidak ada yang bisa menggantikan pengaruh politisi Golkar ini di Nagan Raya. Bahkan, pada perhelatan Pilkada 2012 lalu, T Raja Keumangan “terpaksa” mencalonkan diri untuk menggantikan Ampon Bang meskipun gagal dalam pemilihan. T Raja Keumangan sendiri merupakan saudara kandung Ampon Bang yang kelak dipercayakan menjabat sebagai Kepala Bappeda Kabupaten Nagan Raya.

Di Pemilihan Legislatif 2014-2019, Ampon Bang juga digdaya menempatkan istrinya, Kelimah, di kursi parlemen dan bahkan menjadi Ketua DPRK Nagan Raya. Sejak itu, kemudi pemerintahan Nagan Raya berotasi di trah Ampon Bang hingga menyongsong Pilkada 2017.

Di Pilkada 2017, Golkar kembali mengusung satu calon yang dinilai pantas menjadi bupati pengganti T Zulkarnaini. Dia adalah TRK alias Teuku Raja Keumangan yang tak lain adalah keluarga dekat Ampon Bang.

Berpasangan dengan Said Junaidi, Teuku Raja Keumangan digadang-gadang sebagai kandidat terkuat penerus Ampon Bang untuk memimpin di kabupaten “Batu Giok” tersebut. Namun tak disangka, popularitas Dinasti Ampon Bang runtuh. TRK kalah melawan pasangan Jamin Idham-Chalidin Oesman alias Jadin.

Berdasarkan rapat pleno KIP Nagan Raya, diketahui TRK-Said Junaidi hanya berhasil mengumpulkan 34.474 suara. Sementara rivalnya, Faisal A Qubsy-Mustafar Cut Ali meraih 872 suara, pasangan nomor urut tiga yakni drh Muhammad Zahed-Samsul Bahri meraih 1.267 suara, pasangan nomor urut empat Nurchalis MSi-Suyanto meraih 14.746 suara, serta pasangan nomor urut lima HM Jamin Idham-Chalidin meraih 44.356 suara.

2. Tak Lulus Tes Kesehatan, Tetapi Menang di Pilkada Bireuen

Langkah Saifannur sempat terhenti saat tes kesehatan kandidat bupati dalam Pilkada 2017 kemarin. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan tim medis RSUDZA, politisi Golkar ini disebut-sebut tidak sehat secara jasmani karena “tersandung” neurobehaviour. Hasil tes kesehatan ini membuat taipan Bireuen itu meradang. Dia menduga hal itu sebagai bagian dari usaha menjegal langkahnya menuju pemilihan.

Lantas apa itu neurobehaviour?

Jika merujuk dari berbagai sumber, neurobehavior adalah hubungan antara fungsi otak dengan perilaku dan proses berpikir manusia. Neurobehavior terkait dengan pola perilaku hidup seseorang yang berhubungan dengan sistem neural (sistem saraf) seperti pola tidur, mood atau suasana hati, stress, nafsu makan dan kesadaran diri.

Saifannur yang menganggap dirinya sehat-sehat saja tak mau mengalah begitu saja. Dia kemudian meminta untuk tes kesehatan ulang. Namun, lagi-lagi hasil tes tidak memuaskan.

Dua kali dinyatakan gagal, tak membuat semangat Saifannur untuk mencalonkan diri di Pilkada Bireuen batal. H Saifannur menempuh langkah hukum dengan mengajukan gugatan ke Panwaslih, kemudian ke PTUN Medan dan terakhir ke Mahkamah Agung. Keputusan Mahkamah Agung gugatan H Saifannur dikabulkan.

Setelah lulus sebagai kandidat di Pilkada Bireuen, KIP yang harus menindaklanjuti keputusan MA tersebut akhirnya terpaksa memperbaiki surat suara dengan menambahkan Saifannur-Muzakkar sebagai peserta. Alhasil, pasangan ini malah dinyatakan meraup suara terbanyak di Bireuen.

Dari hasil pleno pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Bireuen H. Saifannur–Muzakkar A. Gani meraih suara terbanyak, yaitu sebanyak 74.292 suara. Di urutan kedua disusul Tgk. Muhammad Yusuf A. Wahab-dr. Purnama Setia Budi Sp.OG dengan raihan 61.186 suara. Selanjutnya Ruslan M Daud-Drs. Djamaluddin Idris 31.208 suara.

Untuk urutan ke empat Paslon Khalili -Yusri memperoleh 30.192 suara, disusul Paslon DR. Amiruddin Idris SE.,M.Si-Drs.Ridwan Khalid mendapatkan 9.321 suara dan terakhir Paslon H Husaini Amin SE-Azwar S.Pd meraih 6.686 suara.

3. Kota 100 Ribe

Kemenangan Saifannur memantik protes. Apalagi ada dugaan money politic dalam praktik memenangkan pemilihan kepala daerah. Setidaknya demikian dugaan yang disampaikan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat dan Pemuda Bireuen. Mereka berunjuk rasa ke kantor Panwaslih Bireuen, Kamis, 23 Februari 2017. Dalam tuntutannya, Panwaslih setempat diminta untuk mengusut tuntas dugaan politik uang yang dilakukan Saifannur/Muzakkar A Gani, pasangan calon (paslon) bupati/wakil bupati yang memperoleh suara terbanyak pada Pilkada 15 Februari 2017.

Sebelum demonstrasi ini berlangsung, jamak para netizens yang melakap imej negatif untuk Bireuen dengan Kota Rp100 Ribe. Hal ini disebabkan adanya dugaan pemberian uang Rp100 ribu untuk warga agar memilih pasangan calon tertentu di Pilkada 2017 Bireuen. 

“Selamat datang di Bireuen, kota 100 ribu,” tulis Suadi, salah seorang pengguna Twitter, Sabtu, 18 Februari 2017, seperti dikutip salah satu media online di Aceh beberapa waktu lalu. Stigma negatif untuk Kabupaten Bireuen ini sempat viral beberapa waktu lalu di lini massa. Bahkan, imej kota Rp100 ribe masih dibicarakan hingga kemarin, Kamis, 23 Februari 2017.

“Ho meujak? Lon neuk jak u kota sireutoh ribee.” Tulis Zulkarnaini, salah satu pengguna akun Facebook.

+++

Selain fakta unik di atas, tentunya masih ada sejumlah fenomena menarik lainnya yang berlangsung dalam Pilkada 2017 di Aceh. Sebut saja diantaranya trend kupiah mirah, bakal calon yang tak lulus tes mengajiada calon yang tak dipasang foto dalam iklan KIP, serta gagalnya beberapa kandidat petahana di tingkat kabupaten/kota.[] Dari berbagai sumber