BANDA ACEH – Jembatan Lamnyong baru saja usai direnovasi menjadi dua jalur. Proyek ini bersumber dari dana dari Otsus senilai Rp89,202 miliar. Proyek yang masuk dalam kategori multi year contracts tersebut dimenangkan PT Waskita Karya sebagai rekanan.

Jembatan sepanjang 300 meter ini juga ditambah dengan pembangunan underpass di persimpangan menuju Kopelma. Dengan dibangunnya jembatan penghubung ini, mahasiswa diharapkan akan mudah pulang pergi nantinya.

Namun, keindahan proyek yang baru saja selesai dikerjakan ini rusak. Aspal hitam yang baru saja dipoles rekanan kini terlihat tak karuan. Kenapa? Hampir sebagian jalan arah Pasar Aceh menuju Darussalam di jembatan Lamnyong itu tertutup lumpur. Diduga, lumpur ini merupakan pertinggal truk-truk proyek yang mengangkut material dari bawah jembatan Lamnyong.

Kondisi ini tentu saja membahayakan pengguna jalan. Debu yang berterbangan kala cuaca panas berpotensi merusak saluran pernapasan pengendara. Hal lain jika hujan mengguyur bumi. Maka lumpur di jalan itu bakal membuat para pengendara 'apuh apah' mengontrol kendaraannya agar tidak tergelincir.

Setidaknya demikian pengakuan salah satu akademisi Unsyiah, Saifuddin Bantasyam, yang kesehariannya hilir mudik di jembatan itu untuk melaksanakan tugas mengajar. Keresahan Saifuddin Bantasyam ini kemudian diposting dalam akun Facebook-nya, pada Selasa, 7 Februari 2017.

“Apa kira2 yang akan disampaikan oleh pemilik truk jika ditanya, “kok sampai hati anda bekerja seperti ini?” Saya potret kemarin siang. Jembatan baru Lamnyong dg aspal mulus hitam, sdh beberapa hari dikotori dan akan terus seperti itu beberapa hari ke depan jika pemerintah atau pengawas proyek mendiamkan saja. Tanah liat itu jelas tak akan hilang dengan terpaan angin. Debu sangat mengganggu saat tiada hujan dan menjadi licin saat hujan. Dlm terik dan hujan, nyawa bisa terancam!”

Keresahan Saifuddin Bantasyam ini masuk akal. Pantauan portalsatu.com hingga pukul 18.45 WIB tadi, jalanan baru jembatan Lamnyong itu belum juga dibersihkan. Beberapa pengendara sepeda motor bahkan harus menutup hidungnya ketika melewati ruas jembatan tersebut. Pun demikian ada juga beberapa orang yang mencoba bertahan di sisi jembatan untuk sekadar menikmati panorama Krueng Lamnyong dan matahari terbenam.[]