JAKARTA – Presiden Soeharto memilih mudik bersama keluarga ke Jawa Tengah menjelang gerhana matahari total pada 11 Juni 1983. Ketika beberapa menterinya menyaksikan gerhana di Candi Bodobudur, Suharto memilih berdiam di Dalem Kalitan, Solo.

Dua hari sebelum gerhana, Soeharto ziarah ke makam keluarga di Yogyakarta. Lalu sehari sebelum gerhana, ia nyekar di Astana Giribangun, Solo.

Ketika gerhana berlangsung, Soeharto memilih menyaksikannya lewat televisi. Saat itu satu-satunya stasiun televisi, TVRI, menayangkan siaran langsung fenomena langka itu.

Soeharto lewat Menteri Penerangan Harmoko memang menginstruksikan agar masyarakat tak keluar rumah dan menonton gerhana lewat televisi saja. Instruksi presiden itu diteruskan berbagai instansi dengan memasang spanduk dan menyebar pamflet bahaya kebutaan akibat melihat gerhana secara langsung.

Sepanjang gerhana, tak nampak kegiatan khusus di Dalem Kalitan. Tak terlihat juga peralatan melihat gerhana. Pintu gerbang Dalem Kalitan tertutup dengan Paspampres terlihat berjaga di luar.

Sore harinya, Soeharto kembali ke Jakarta. Ia terbang dengan pesawat kepresidenan dari Lanud Adisumarmo.

Sementara itu Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah juga tak membuat persiapan khusus menonton gerhana. Sehari menjelang gerhana, Wapres Umar meresmikan proyek di Cilacap. Lalu pada hari gerhana ia memilih ziarah ke makam orang tuanya di Tebon, Sidoluhur, Godean, Yogyakarta.

Sementara itu mantan Wapres Adam Malik memilih menonton gerhana di Cepu, Jawa Tengah. Ia bergabung dengan puluhan turis dan astronom asing yang mengamati gerhana di sana.[]

Sumber: detik.com