LHOKSEUMAWE – Sosiolog Universitas Malikussaleh,  Dr. Nirzalin, M.Si., menilai gelanggang politik di Aceh saat ini belum tersedia untuk para akademisi kampus.

Nirzalin menyampaikan itu menjawab portalsatu.com/ di Lhokseumawe, Sabtu, 9 Januari 2016, terkait belum munculnya tokoh kampus/akademisi dalam bursa kandidat kontes demokrasi/Pilgub Aceh mendatang. 

Nirzalin menyebut kaum akademis tidak muncul lantaran melihat gelanggang politik ini belum tersedia untuk mereka.

“Elektabilitas politik saat ini di Aceh masih berkutat pada orang-orang yang lebih populer di mata masyarakat, karena mereka lebih jauh dikenal daripada kaum akademis,” kata Nirzalin.

Selai itu, Nirzalin juga melihat ada trauma di kalangan akademisi Aceh setelah mereka tampil pada beberapa Pilkada/Pemilukada sebelumnya baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Mereka yang telah berjuang tidak pernah terpilih. Misalnya, Prof. Darni (mantan Rektor Unsyiah) yang minim hasil perolehan suara dari masyarakat Aceh.

Nirzalin menyebut ketika tidak mempunyai elektabilitas maka kesannya seperti dipermalukan oleh calon terpilih yang tidak ada status akademiknya. “Saya kira inilah yang menjadi landasan para akademis lebih memilih kampus dibanding pemerintahan,” ujar Doktor Sosiologi lulusan UGM Yogyakarta ini.

Ketua Pusat Studi Ekonomi, Sosial dan Politik (Puskospol) Unimal ini menyimpulkan peta politik saat ini, gesturnya berpacu pada kepopuleran seseorang. “Dan dapat disebutkan ini menjadi alasan akademisi untuk tidak tampil dalam gelanggang Pilkada 2017 mendatang,” kata Nirzalin.[] (idg)