Oleh: Sarbini Abdul Majid
SETIAP daerah ada kearifan lokal yang menjadi khas setiap budaya setempat. Demikian juga dengan kita di Aceh, di samping ada warisan adat dan budaya seperti yang sering kita lihat berupa tarian, pakaian adat, acara adat dengan segala seremonialnya, juga yang tak kalah menarik dan penting adalah, bahwa orang tua kita dulu juga mewariskan tutur kata yang penuh hikmah, yang disebut dengan hadih maja. Di dalamnya banyak terkandung butirbutir nasehat yang penuh dengan nilai kearifan.
Mungkin sudah sedikit generasi sekarang yang peduli dan tahu tentang hadih maja. Dan sudah selayaknya kita buka dan dikaji ulang hadih maja ini yang penuh dengan kearifan agar terus diingat dan dilestarikan lintas zaman.
Penulis masih ingat ketika masih remaja, ibu saya sering menuturkan hadih maja kepada penulis. Dan sampai sekarangpun masih teringat untaian nasehat itu. Pernah sekali waktu penulis berkata kepada ibu bila saya sudah besar nanti saya akan begini dan begitu untuk ibu dan ayah. Kemudian ibu berkata reuoh han i ek u ateuh tapi i tren u yub ( keringat tidak naik ke atas tapi turun ke bawah). Maksudnya orang akan lebih memperhatikan anaknya dari pada orang tuanya. Atau di lain waktu beliau berkata panyang panyang iku leumo yang ie pot tuboh dro (panjang panjang ekor lembu yang dikipas badannya sendiri), bermakna, orang lebih memperhatikan keluarga atau sendiri dari pada orangn lain.
Demikian juga ketika mereka menesehati anaknya agar tidak bergaul dengan orang yang buruk ahklaknya. Bak ie raya bek taboh ampeh, bak ie tarek bek tatheun bube, bek tameurakan deungon sipaleh, hareuta habeh geutanyo malee (ketika air besar jangan pasang ampeh (sejenis perangkap ikan dari bambu), waktu air sedikit jangan pasang bubu, janganlah berteman dengan orang jahat, harta habis kita malu.”
Pada era tujuh puluhan ketika MOI (Mobil Oil Indonesia) dan PT. Arun mulai beroperasi, ketika itu banyak tenaga ahli yang didatangkan dari luar Aceh maka muncul ungkapan hadih maja yang berbentuk sarkastik buya kreung teudeng deng buya tameng meuraseuki bermakna penduduk lokal menjadi penonton dari sebuah pembangunan dan yang beruntung adalah para pendatang.
Juga ada hadih maja untuk mengingatkan para pemimpin agar berhati hati dalam menjalankan amanah dan juga nasehat untuk para istri. Paleh raja i meudeungo tiep sago, palek inong i teumanyong wate wo lako bermakna seorang pemimpin itu harus hati hati dengan para pembisik agar tidak salah dalam memutuskan kebijakan demikian juga seorang istri jangan terlalu mencurigai suami.
Anjuran untuk bekerja jangan menganggur dengan ungkapan meumet babah meuek igo kalau sudah bekerja walau sedikit pasti ada rejeki.
Ada juga petuah agar dalam bertindak mesti berpikir dulu secara matang agar tak menyesal nantinya yakni awai buet dudo pike, teulah oh akhe keupeu lom guna.
Maka sudah selayaknya kita hidupkan kembali khasanah tua sehingga jadi pelajaran yang bisa kita tarik. Untuk generasi muda, jangan sungkan untuk mempelajari kembali kearifan yang diwariskan oleh leluhur kita dulu. Sehingga jadi kita lebih menghargai warisan sejarah karena sejarah itu sendiri adalah guru kehidupan.[]
*Penulis adalah Presidium Mer-C, dokter alumnus Fakultas Kedokteran Unsyiah dan mantan Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh


