LHOKSUKON – Harga cabai merah di Kabupaten Aceh Utara terus melonjak sejak empat hari terakhir. Naiknya harga membuat cabai kurang laku di pasaran. Para pedagang di Kecamatan Lhoksukon tidak berani menyimpan stok dalam jumlah banyak karena takut cabai membusuk.
Naiknya harga cabai merah berimbas pada para pedagang dan juga dikeluhkan ibu rumah tangga. Pedagang mulai mengurangi penerimaan pasokan mengingat turunnya daya beli masyarakat.
“Sejak empat hari lalu harga cabai merah naik menjadi Rp90 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp80 ribu. Cabai hijau naik dari Rp38 ribu menjadi Rp42 ribu. Demikian juga cabai rawit naik dari Rp50 ribu menjadi Rp65 ribu,” kata Syarifuddin, 45 tahun, pedagang cabai asal Gampong Meunasah Pante, Lhoksukon kepada portalsatu.com, Senin, 21 November 2016.
Syarifudidn menyebutkan, jika biasanya ia menyimpan pasokan hingga 10 kilogram, kini hanya 3 kilogram. Itu pun baru habis cukup lama lantaran minat pembeli cabai merah kini sangat merosot.
“Masyarakat kini mulai beralih ke bumbu dapur yang sudah digiling, bahkan banyak pula yang memilih mengambil lauk rantangan. Naiknya harga cabai ini juga berpengaruh pada kami pedagang. Lihat saja, bisa dihitung jari jumlah pedagang cabai saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga bawang merah Sigli juga ikut naik. Jika biasanya Rp28 ribu per kilogram, kini menjadi Rp34 ribu. Harga bawang putih dari Rp29 ribu per kilogram kini Rp 32 ribu.
“Harga telur stabil Rp32 ribu per papan (30 butir), harga minyak goreng juga bertahan Rp12 ribu dan gula pasir Rp13.500 per kilogram,” kata Syarifuddin.[]



