SAMALANGA Dai asal Teungku Zarkasyi mengatakan, dalam kehidupan, sebuah kepedulian dan saling berbagi statusnya labudda min. Sikap tersebut merupakan hal yang dianjurkan dalam syariat.
Kita sering mendengar ungkapan Teilens undder Fürsorge (berbagi dan peduli). Hal ini mengandung makna bahwa dalam kehidupan hendaknya kita saling berbagi dan peduli dengan dan kepada orang lain. Berbagi tidak dapat dilepaskan dari peduli. Berbagi dan peduli ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, ujar Teungku Zarkasyi Yusuf akrab disapa Abi Zarkasyi kepada portalsatu.com, Rabu, 2 November 2016.
Alumni Dayah Nurul Huda Kembang Tanjung Pidie ini menyebutkan, sikap peduli itu mengawali langkah dalam berbagi. Berbagi merupakan sikap yang terpuji. Orang yang senang berbagi berarti ia punya kepedulian terhadap orang lain.
Ketika kita punya harta, tenaga dan ilmu ataupun nikmat berupa menjadi juara di berbagai even atau sejenisnya umpamanya. Sementara orang lain dan saudara kita di sekeliling walaupun tidak membutuhkan hal itu, maka sangatlah arif, bijaksana dan pantas apabila dibagikan kepada orang lain sebagai bentuk kepedulian dan indahnya berbagi. Apalagi orang lain dan saudara dekat tersebut berada dalam kesusahan. Itulah cermin dan wujud kepedulian seorang teman atau saudara terhadap sesame, paparnya.
Tgk. Zarkasyi menjelaskan, berbagi tanpa diminta lebih besar pahalanya. Begitu juga dengan sikap peduli, termasuk dua perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai implementasi dari sifat tolong menolong.
Dan ini diperintahan Allah swt., dalam Surat Al-Maidah: ….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…, kata putra Kembang Tanjong ini.
Tgk. Zarkasyi mengatakan, manusia merupakan makhluk yang dihiasi dalam hatinya oleh Yang Maha Kuasa kerinduan untuk senantiasa berbagi. Berbagi mengindikasikan pengorbanan dan kerelaan untuk memberi.
Semakin banyak memberi, semakin tidak akan merasa kekurangan. Pengorbanan yang paling tinggi adalah dalam bentuk penyangkalan diri, yakni ketika yang dikorbankan adalah harga diri sendiri untuk meningkatkan harga diri orang lain, ujarnya.
Di sinilah, menurut Tgk. Zarkasyi, keindahan berbagi daripada sekadar menerima. Namun, kata dia, pergeseran paradigma moral saat ini telah membawa keindahan lain yang sifatnya semu, yaitu keindahan dalam mengambil atau menerima bukan untuk memberi.
Bahkan, di lain pihak banyak individu saat ini justru mau berbagi dan memberi dengan tujuan demi untuk mendongkrak popularitas diri, ujarnya.
Tgk. Zarkasyi menambahkan, tidak sedikit orang berbagi dengan tujuan ingin menjadi terkenal. Tujuannya bukan karena lillahitaala dengan nilai keikhlasan, tetapi ingin dipuji orang alias ria.
Berbagi bukanlah merupakan bungkus yang tampak dari luar saja, melainkan sesuatu yang berasal dari dalam. Latifah rabbaniah yang tersembunyi dalam bilik samudera kalbu. Itulah sebabnya ketika seorang berbagi dengan orang lain di harus landasi keikhlasan, katanya.
Ikhlas itu, ia melanjutkan, bukan dilihat dengan adanya publikasi atau tidak. Malah tanpa publikasipun terkadang keikhlasasn juga sirna, tetapi standarisasinya di kalbu. Sudah pasti Al-Qalbu La Tukazzibu Sahibahu (sang kalbu tidak akan menipu sahibnya), ujar Tgk. Zarkasyi.
Menurut Tgk. Zarkasyi, berbagai dan saling peduli hendaknya menjadi pakaian dan menu kita dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Tentu saja juga akan mengikis sikap ego dan tamak pada diri kita masing-masing. Apabila sikap tersebut sudah dipupuk dan dibina dalam segala lini kehidupan, sungguh menjadi sebuah bentuk realisasi akhlakul karimah yang kian hilang dan pudar di era modern dan globalisasi ini.
Walhasil indahnya berbagi dan saling peduli akan memperat ukhuwah dan solidaritas di antara sesame, pungkas penulis buku “Menuju Syariat Islam Kaffah” ini.[]

