BANDA ACEH – International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), bekerja sama dengan Open Data Labs, Jakarta, sedang giat melaksanakan program Inovasi untuk Kota Terbuka: Kota Tanyoe. Yaitu program yang menyediakan data-data tentang produk unggulan gampong di Banda Aceh.
Kota sebagai pusat aktivitas masyarakat membutuhkan inovasi guna meningkatkan kualitas hidup warganya. Salah satunya dalam menyikapi tantangan bagi peningkatan kondisi perekonomian warga yang biasanya bersumber dari sektor-sektor jasa, transportasi dan perdagangan.
Hal tersebut mengemuka pada kegiatan diseminasi dan diskusi hasil program inovasi kota, di Aula Balai Kota, Banda Aceh, Kamis, 9 Februari 2017.
Program inovasi ini berjalan dengan memanfaatkan hasil survei Pemko Banda Aceh melalui program One Village One Product (OVOP), atau program guna mendorong adanya produk pada setiap gampong di Banda Aceh. Program Inovasi Kota Terbuka ini selain menyediakan informasi tentang produk-produk unggulan gampong pada web www.kotatanyoe.org, yang paling penting adalah setiap orang secara terbuka bisa mengakses, bahkan mengubah, serta membagikan kontennya, ujar Asrul Sidiq, Manajer Program Inovasi Kota ini.
Produk atau usaha unggulan milik warga kota Banda Aceh yang telah terdata tersebut bervariasi, mulai dari produk kuliner, kerajinan tangan hingga konveksi.
Saat ini kami telah menyediakan data 140 produk-produk warga kota, baik dari industri rumah tangga atau usaha kecil menengah yang dapat diketahui jenis produk, variasi, serta titik koordinat lokasi tempat diproduksi dan penjualan secara akurat. Yang paling penting adalah media ini dapat menjadi media promosi gratis bagi pengusaha dan pengrajin di Banda Aceh, kata Asrul Sidiq.
Di antara produk yang dapat ditemukan pada web tersebut kerajinan gerabah seperti beulangong atau bejana dari tanah produksi warga Ateuk Jawo, minyak nilam, dendeng ikan, produk fashion dengan desain khas Aceh, kuliner khas Aceh Adee, dan berbagai komoditas yang diproduksi warga gampong di Banda Aceh.
Plt. Wali Kota Banda Aceh diwakili Asisten III Setda Banda Aceh M. Nurdin, S.Sos., saat membuka acara tersebut menjelaskan, yang telah tersedia ini merupakan jawaban, dan sebagai data awal bagi pemerintah untuk mendukung industri kecil di Banda Aceh.
Web ini sudah mengidentifikasi jenis-jenis usaha yang nantinya akan kita lanjutkan sebagai masukan terhadap kebijakan yang akan pemerintah kota lakukan. Program seperti ini harus dapat terus dilanjutkan karena sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kita berkomitmen, pertama sekali dengan mengoptimalkan produk-produk yang telah tersedia pada web ini, ujarnya.
Keberlanjutan program
Pada sesi diskusi mengemuka saran dan pendapat bagi keberlanjutan program ini di masa yang akan datang. Salah satu kendala seperti dihadapi pengrajin di Ateuk Jawo adalah semakin minimnya bahan baku berupa tanah yang baik untuk produksi beulangong. Itu dikeluhkan salah seorang pengrajin dan warga dari gampong tersebut.
Sementara produk-produk lain menghadapi tantangan yang sama seperti dalam hal promosi dan pemasaran, daya saing produk dan sertifikasi agar produk dapat terjamin kualitasnya. Ini merupakan ruang yang musti diintervensi oleh pemerintah kota guna dengan mendukung dan memfasilitasi produk-produk warga agar dapat bersaing dan semakin diminati.
Sebenarnya jumlah produk yang tersaji dalam web tersebut masih relatif sedikit dibandingkan dengan produk dan usaha yang diproduksi warga. Untuk itu, karena media ini berbasis terbuka, siapa saja dapat menambahkan produknya masing-masing.
Perwakilan Open Data Labs, Antya Widia menjelaskan keunggulan program ini Bahwa sistem data terbuka seperti ini memungkinkan siapa saja untuk mengakses, menggunakan hingga mengubah data yang ada.
Saat ini Open Data Labs telah beroperasi di beberapa negara di Asia Tenggara. Untuk Indonesia, kita sudah mengimplementasikan program di Jakarta, Solo, Yogyakarta, dan Aceh.
Di akhir diskusi, pihak ICAIOS juga mengumumkan para pemenang promosi produk tanyoe, yaitu kompetisi yang bertujuan untuk menjaring partisipasi warga. Bentuk partisipasi yang dilakukan adalah dengan cara mengakses website, memilih produk dan membagikannya melalui jejaring media sosial seperti Facebook dan Twitter. Kompetisi ini dijuarai Aldi Febrian dan Gunawan.
Acara ini dihadiri para pengrajin, pengusaha industri rumah tangga dan usaha kecil menengah, aparatur pemerintah kota, pegiat komunitas, dan perwakilan dari gampong dan kecamatan di Banda Aceh.[](rel)






