Kehidupan merupakan alur rotasi yang terus berputar sesuai dengan fitrahnya. Rotasi hidup yang dikenal dengan perubahan merupakan sebuah proses. Seorang muslim harus mampu dalam mengelola dan memanajemen diri di era perubahan seperti dewasa ini yang dikenal dengan era globalisasi.
“Sebuah bahaya besar saat kita tidak siap menghadapi perubahan hidup. Kita akan menjadi orang yang tersisihkan jika tidak siap menghadapi perubahan. Persaingan semakin ketat, kebutuhan hidup semakin mendesak, dan sumber daya yang semakin menipis memaksa sebagian orang untuk melakukan metode terbaik dalam hidupnya. Baik dalam berbisnis maupun dalam bekerja, mereka melakukan dengan cara yang terbaik agar menang dalam persaingan, papar Teungku Muhammad Kharazi, intelektual muda berprestasi sang kandidat master ekonomi syariah, ditemui Senin, 24 Oktober 2016.
Kharazi menambahkan, saat orang-orang menemukan teknologi dan manajemen terbaru, artinya ada perubahan, baik secara global mapun khusus dalam industri. Jika tidak ikut menyesuaikan diri dengan perubahan, maka akan tersisih, hanya mendapatkan sisa-sisa orang-orang yang bertindak progresif.
Analoginya sederhana, jika dulu kita berperang menggunakan panah, tombak, pedang, kuda, dan tameng, maka saat ini tidak lagi seperti itu. Bayangkan, jika Kita berperang menggunakan senjata tradisional, sementara musuh menggunakan senjata modern yang lebih efektif, maka kita akan kalah, tamsil putra Bambong, Pidie, yang juga guru di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga ini.
Kharazi menyebutkan, begitu juga dalam dunia dakwah. Saat orang-orang penyebar kemaksiatan menggunakan cara-cara canggih untuk menuju neraka, maka kita pun harus menggunakan cara-cara yang tidak kalah canggihnya supaya bisa mengatasi kemunkaran. “Kita tidak bisa hanya menggunakan cara-cara kuno untuk memerangi mereka,” ujarnya.
“Rasulullah saw adalah pribadi yang sangat disayang oleh Allah. Namun saat berperang tetap menggunakan pasukan sebanyak mungkin, membekali diri dan pasukannya dengan senjata selengkap mungkin. Beliau pun menggunakan baju besi untuk melindungi dirinya. Artinya menggunakan strategi dan teknologi paling mutakhir saat itu. Dan, Allah memberikan pertolongan kepada beliau, kata mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan alumni IAI Al-Aziziyah Samalanga itu dengan penuh semangat.
Bagaimana Allah akan menolong kita, lanjut Kharazi, jika kita tidak berusaha untuk mengubah diri kita sendiri. Termasuk berusaha mengubah diri sendiri agar siap menghadapi perubahan. Baik untuk berumah tangga umpamanya, bahkan hal lain yang lebih besar.
Pertolongan Allah akan datang jika kita memang benar-benar sudah berusaha untuk mendapatkan pertolongan Allah tersebut. Rasulullah saw, meski yakin dan terbukti mendapatkan pertolongan Allah, tetap berusaha semaksimal mungkin saat berperang dan berdakwah, pungkas Kharazi.[]



