Oleh: Muhammad Noval

Tidak terasa kita telah berada di penghujung Ramadan. Hanya tinggal menghitung hari kita akan bertemu dengan hari yang istimewa bagi umat Islam yaitu hari raya Idul Fitri. Seperti biasanya banyak dari kita yang sudah bersiap-siap untuk mudik ke kampung halaman. Baik itu yang merantau untuk kuliah, kerja dan sebagainya. Banyak penjelasan mengapa orang ramai-ramai pulang mudik untuk berlebaran di kampung. Di antaranya ialah untuk berkumpul keluarga di hari yang istimewa itu. Terlebih bagi mereka yang masih punya orangtua, kerinduan untuk bertemu mereka menjadi dorongan utamanya.

Sebuah renungan bagi anak rantau, termasuk diri penulis sendiri, tentang kerinduan seorang ibu di kampung yang menunggu kepulangan anaknya di hari lebaran. Mungkin banyak dari kita para mahasiswa dan pekerja serta masyarakat yang merantau ke kota sangat sibuk dengan pekerjaan, sehingga lupa akan kampung halaman jangankan pulang berkomunikasi pun jarang. “Jak barangkahoe jeut, makmeugang woe”. Begitu pesan pendek orang tua di saat anaknya akan ke perantauan. Kalimatnya memang pendek, namun sangat mudah diingat, apalagi menjelang puasa atau hari raya.

Tentu kita di perantauan sangat sedih apabila tidak bisa menikmati sie meugang geutangun le mak bersama keluarga. Meugang atau “makmeugang” adalah tradisi rakyat Aceh menyambut Ramadan, hari raya Idul Fitri, dan hari raya Idul Adha. Jika pun tidak sempat pulang setiap waktu tapi setidaknya ketika lebaran harus menyempatkan diri untuk pulang kampung toh, mereka yang sudah membimbing dan membiayai kehidupan kita ketika pertama sekali merantau. Mereka berusaha bekerja keras hanya untuk melihat putra-purinya sukses dan bahagia dan di hari lebran mereka sangat merindukan kepulangan kita.

Masih ingatkah kita Ketika pertama sekali meninggalkan orang tua? Mereka merasa kehilangan dan hari-hari pertama di perantauan mereka selalu tidak nyenyak tidur karena memikirkan kita. Namun banyak dari kita tidak menyadari hal tersebut. Lazimnya bagi anak rantau berjuang di negeri orang adalah sebuah keharusan demi mencapai cita-cita yang di inginkan. Caranya berusaha sendirian dan yakin akan berhasil dengan sukses di perantauan. Di perantauan kadang banyak permasalahan dari minimnya uang untuk keperluan sehari hari sampai permaslahan di kampus maupun di tempat kerja yang sangat menyusahkan. Namun yakin usaha akan pasti sampai.

Di kampung orang tua juga sangat khawatir dengan anaknya di perantauan. Betapa tidak mereka selalu memikirkan tentang kesehatan, makanan tempat tinggal dan sebagainya. Namun anak di perantauan kadang menganggap itu terlalu berlebihan sehingga tidak mau diatur dan dihubungi orang tua. Ada juga para anak rantau yang  terpengaruh dengan pergaulan bebas.  Banyak dari mereka pada akhirnya tidak bisa menyelesaikan kuliah bayangkan betapa kecewanya orangtua di kampung.

Di rumah, Ketika orang tua mengetahui anaknya ingin pulang kampung mereka begitu sibuk menyiapkan bekal baik makanan dan tempat tidur yang istimewa untuk menyambut anaknya yang baru pulang dari perantauan. Dan yang paling tidak disangka-sangka adalah orang tua selalu mendoakan anaknya di sepertiga malam. Jadi wahai anak rantau jangan sombong dengan keusksesan yang engkau dapatkan di perantauan karena  itu semua adalah berkat doa dari kedua orangtuamu.[]

*Muhammad Noval adalah Kabid Komunikasi Umat Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) dan Anggota HMI FKIP Unsyiah, Banda Aceh