LHOKSUKON – Jangan malu menjadi petani. Selama ini petani malu karena merasa terbelakang dengan pendapatan yang kecil. Pola itu harus diubah, sehingga tidak ada lagi yang malu menjadi petani.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Banda Aceh, Dr. Ir. Agus Sabti, M.Si di Gedung Panglateh, Lhoksukon, Aceh Utara, Rabu 14 Desember 2016.

“Di luar sana, orang bangga menjadi petani karena memiliki pendapatan besar, cerdas dan tidak kumuh. Petani kita juga bisa demikian dengan cara fokus pada satu jenis tanaman saja. Misalkan, anggur semua, pisang semua, sehingga bisa diekspor. Satu kalimat dari saya, maju pertanianku, makmur negeriku,” ujarnya.

Isu Pembubaran Badan Penyuluh

Sementara itu, di lokasi yang sama, Plt. Bupati Aceh Utara, H. Muhammad Jamil menanggapi perihal isu pembubaran badan penyuluh. Ia mengatakan, tidak ada pembubaran. Saat ini dileburkan dan dimasukkan ke Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan.

“Itu tetap utuh dan tidak diambil provinsi, tetap bagian kita. Mereka itu perpanjangan pemerintah untuk membidani masyarakat yang ada di gampong dan butuh sentuhan mereka,” ucapnya.

Tambahnya, harus ada kreatifitas untuk mendapat komoditi unggulan. Aceh Utara miliki 852 gampong. Sebagai contoh bisa diambil satu gampong, apakah itu untuk pertanian atau peternakan

Misalkan untuk pertanian, maka struktur tanah harus dilihat apa yang cocok ditanam, baik itu cabai, bawang merah dan lainnya. Sehingga nantinya ada daerah yang memiliki potensi unggulan.

“Penyuluh harus terus berpacu, membaca Teknologi Informasi (IT), harus berkembang dan inovatif. Petani harus penuh kreatifitas untuk menambah penghasilan sendiri, meningkatkan harkat martabat. Jika butuh tenaga atau pikiran penyuluh, tetap kita salurkan,” pungkas M Jamil.[]