Musim haji tahun 2016 sudah tiba. Jamaah haji kelompok terbang (Kloter) pertama telah tiba di Madinah. Mereka sekarang sudah berbaur dengan jamaah haji dari berbagai negara yang datang pertama ke kota suci itu, misalnya jamaah calon haji dari Bangladesh.

Para petugas haji pun sudah bersiaga. Rombongan petugas haji pertama sudah berada di Madinah pada Sabtu lalu (6/8) untuk segera melayaninya. Sementara rombongan petugas haji kelompok kedua telah berangkat ke Jeddah dan Makkah pada Selasa lalu (9/8).

Pemerintah Arab Saudi pun sudah bersiap menyambut datangnya jamaah haji. Proyek peluasan ‘mataf’ (tempat tawaf) telah dituntaskan sekitar sepekan sebelum Ramadhan tiba. Alhasil, tempat tawaf pun kini semakin lapang karena kapasitasnya bertambah empat kali lipat dari kapasitas semula.

Maka semenjak kedatangan jamaah haji  kelompok yang pertama, kota Makkah dan Madinah pun secara berangsur-angsur berubah hiruk-pikuk. Makkah yang sehari-harinya suasananya keriuhannya tak lebih dari Kota Yogyakarta, sampai ke masa tibanya puncak haji secara berangsur-angsur akan berubah menjadi kota yang padat.

Denyut kesibukan orang di area sekitar Masjidil Haram yang sempat lenggang semenjak usainya Idul Fitri, kini sudah bisa dipastian mulai berdenyut kencang kembali.

Berkesempatan menunaikan ibadah haji adalah kesempatan yang patut disyukuri dengan penuh suka cita. Tentu saja, akan lebih penuh arti, bila ibadah ini mampui menuai kesempurnaan dan ampunan, yakni menjadi haji yang mabrur.

Tentu saja, seiring dengan perkembangan teknologi, setiap orang atau jamaah saat pergi berhaji pasti sudah menyediakan berbagai peralatan untuk mengabadikan perjalanan sucinya itu. Kecanggihan teknologi telepon selular adalah alat utama untuk merekam berbagai aktivitas jamaah baik dalam bentuk foto muapun rekaman video.

Ibaratnya, hanya dengan mengklik telepon selular semua aktivitas ketika di tanah suci bisa langsung terlihat dan dapat segera diunggah ke media sosial yang saat ini tengah menjadi trend masyarakat Indonesia.

“Tapi ingat, hati-hati bila berfoto ria dan melakukan selfie (swa foto) ketika mengenakan pakaian ihram,’’ begitu nasihat seorang petugas pembimbing jamaah haji pada sebua travel yang ada di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Nasihat agar berhati-ati ketika melakukan selfie saat mengenakan umrah memang terasa mengejutkan. Sebab, pada waktu kepergian umrah sebelumnya nasihat ini belum ada.

‘’Apa jadinya ketika tengah mengenakan ihram anda berfoto ‘selfi’ dan tanpa sadar anda memperlihatkan aurat yang seharusnya tak boleh terbuka. Celakanya, foto anda mengenakan ihram itu sudah keburu diunggah ke media massa sehingga seluruh dunia bisa melihatnya. Nah, berapa besar nilai dham bila dibandingkan masa lalu, di mana aurat anda saat itu hanya dilihat oleh beberapa orang saja,’’ ujarnya.

Kejaidan ini patut diperhatikan karena kini memang banyak jamaah haji masa kini yang terkena sindrom ‘baper selfie’ (ke mana-mana bawaan perasaannya ingin berfoto dan berselfie ria)…

Nasihat petugas pembimbing ibadah haji/umrah itu tentu patut direnungkan. Melakukan foto selfie di kala mengenakan pakain ihram memang bisa menjadi persoalan serius kalau ada hal-hal melanggar aturan, salah satunya adalah terbukanya aurat.

Memang untuk jamaah umrah atau haji perempuan, mungkin tidak terlalu menjadi persoalan atau bermasalah karena cenderung pakaian ihramnya tertutup (hanya wajah) yang terlihat.

Namun bagi jamaah umrah atau haji dari kalangan laki-laki bisa menjadi soal serius. Sebab, batas aurat kaum Adam adalah dari pusar hingga lutut. Faktanya, tanpa sadar banyak jamaah pria ketika mengenakan ihram, wilayah bagian bawah pusarnya kerapkali  tanpa sadar terbuka karena kain ihramnya melorot. Ini terjadi terutama pada jamaah lelaki yang berperut gendut.

Maka, kalau gambar yang terbuka auratnya itu keburu diunggah ke media sosial, entah berapa banyak viewer yang melihat (mengklik)  gambar itu. Ini belum termasuk jumlah impressi atas penanyangan gambar itu yang jumlahnya bisa berlipat-lipat dari jumlah ‘kilk’ itu.

‘’Alhasil, bila dipadankan dengan besaran dam, maka entah berapa banyak dana yang harus dibayar akibat kecerobohan itu. Selanjutnya, bahkan juga berapa banyak kambing, domba, unta, atau fakir miskin yang harus dibayar untuk menggantikan dam..?’’ ujar sang pembimbing ibadah haji dan umrah itu seraya menyarankan jangan sampai soal ‘baper berfoto ria dan selfie’ mendegradasi kegiatan dan nilai ibadah.

Astagfirullah hal’adzim…!

[]Sumber:Republika