LHOKSUKON Pengamat Komunikasi Politik, Kamaruddin Hasan, menilai Pemilu 2017 ini jauh berbeda dengan Pemilu 2012 lalu. Menurutnya, kali ini kondisi lebih kondusif dan bisa dikategorikan berjalan aman dan damai.
Hal itu disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh (UNIMAL) itu, kepada portalsatu.com, Kamis, 16 Februari 2017, saat dimintai tanggapannya.
Yang kita lihat dari proses kampanye hingga pemungutan suara kemarin (Rabu), bisa dikatakan berjalan aman dan damai. Hanya saja berkaitan dengan hasil, jangan terlalu cepat mengklaim kemenangan, khususnya paslon Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) T.A. Khalid dari Partai Aceh (PA) dan Irwandi Yusuf Nova Iriansyah dari Partai Nasional Aceh (PNA). Hal itu juga berlaku untuk paslon bupati dan walikota. Jangan cepat mengklaim kemenangan, ujarnya.
Menurutnya, salah cara berkomunikasi dapat ditanggapi lain oleh timses di lapangan. Para timses juga bisa tidak terkontrol karena euforia berlebihan.
Ini bisa menjadi konflik. Sebaiknya tunggu saja lembaga resmi yang mengumumkan, karena ini kan ada wadahnya, ucap Kamaruddin.
Ia melihat partisipasi masyarakat Aceh lebih tinggi. Artinya, dalam pemilu kali ini antusiasme dan tingkat partisipasti pemilih lebih fun.
Paslon, timses dan penyelenggara pemilu harus bersyukur karena masyarakat Aceh telah berbondong-bondong datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) menjalankan haknya. Hargai masyarakat yang sudah memilih dan sudah terlibat secara aktif dalam proses demokrasi. Jangan saling klaim. Intinya konteks komunikasi politik ini harus dijalankan dengan baik, ujarnya.
Kamaruddin berharap pada hasil pengumuman nanti, siapa pun yang terpilih, paslon yang kalah harus siap dan legowo. Jangan ada pernyatakan, jika kami kalah akan terjadi keributan dan semacamnya. Jangan ada kalimat-kalimat provokatif seperti itu, karena berbahaya mengingat kita sudah dalam keadaan kondusif dan aman. Jangan sampai gara-gara pernyataan yang keliru malah salah tafsir di lapangan. Ini yang berbahaya, tahan diri dulu sampai proses perhitungan suara selesai, katanya.
Selain itu, lanjutnya, masyarakat juga diharap jangan terlalu percaya dengan hasil sementara yang diposting di media sosial atau lainnya. Menurut Kamaruddin, bisa saja apa yang diposting itu berita hoax yang sama artinya dengan fitnah.
Jangan jadikan postingan hasil itu sebagai pegangan. Ketika ada hasil rekapitulasi suara, sudah dipleno, itu yang dipegang. Jika memang nantinya ada yang kurang puas, maka ada jalurnya dan jangan menimbulkan persoalan di tingkat masyarakat. Ada jalur hukum, silahkan tempuh jalur itu kan ada di tahapan pilkada. Silahkan gunakan tahapan-tahapan itu yang sudah resmi, kata Kamaruddin Hasan. []

