BANDA ACEH – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh menggelar unjuk rasa (demo) di Simpang Lima, Banda Aceh, Jumat, 20 Mei 2016, sore. KAMMI Aceh menuntut pemerintah agar merealisasi kembali visi-misi reformasi yang kini dinilai telah dibajak.

Koordinator aksi Tarmizi mengatakan reformasi di Indonesia masih dibajak.
Padahal, kata dia, reformasi merupakan tonggak awal dari bangsa Indonesia lepas dari belenggu penguasa yang mengebiri nilai-nilai demokrasi.

“Reformasi juga awal dari kebebasan seluruh rakyat Indonesia dalam memperoleh hak-haknya, baik itu dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial,” katanya.

Dia menjelaskan, 18 tahun setelah reformasi kini kembali muncul kondisi hampir sama seperti masa sebelumnya, tapi dikemas dengan bentuk yang berbeda “Penerapan hukum yang masih tajam ke bawah tumpul ke atas, dan maraknya eksploitasi asing terhadap sumber daya alam Indonesia, ini sangat menyedihkan,” ujar Tarmizi.

Tarmizi menambahkan, otonomi khusus yang diberikan kepada Aceh juga belum terealisasi sepenuhnya. Kat dia, hingga kini masyarakat Aceh masih sengsara dan banyak permasalahan social. “Inikan bentuk kebiri dan manipulasi oleh Pemerintah Aceh kepada masyarakat Aceh,” ujarnya.

Karea itu, KAMMI Aceh menuntut adanya supremasi hukum dengan mengadili semua pelanggar hukum tanpa memandang status jabatan, meminimalisir penguasaan sumber daya alam oleh pihak asing yang sangat bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945, pemberantasan KKN dengan mengadili dan menjatuhkan hukuman yang seberat – beratnya kepada setiap pelaku korupsi, otonomi daerah yang seluas-luasnya, penegakkan demokrasi yang rasional dan egaliter yang dari budaya peternalistik dan sentimen primordial.

“Kita berharap ini menjadi sebuah renungan kepada pemerintah baik di tingkat Pusat maupun di Provinsi Aceh dalam menyelesaikan polemik-polemik yang terjadi di negeri ini maupun di Provinsi Aceh itu sendiri,” pungkas Tarmizi.[]

Laporan Ramadhan