INSIDEN yang terjadi di BLUD Rumah Sakit Ibu dan Anak milik Pemerintah Aceh menggegerkan publik. Muncul pertanyaan, benarkah kasus buruknya pelayanan di rumah sakit Tipe B Khusus itu hanya terjadi kali ini saja? Dalam banyak hal Pemerintah Aceh (sering kali) gagal menjadi pelayan yang baik bagi rakyat Aceh. Hampir semua lini pelayanan publik berada di bawah standar.

Hal ini tak terlepas dari buruknya sistem pembinaan kepegawaian. Penempatan pejabat yang sesuka hati pemimpin berdampak pada tidak adanya reward berdasarkan kinerja pegawai. Untuk mendapatkan jabatan bukan lagi berbasis kinerja tetapi berdasarkan pendekatan personal.

Saat insiden seperti yang terjadi di RSIA meledak ke publik maka yang menjadi korban adalah mereka yang di bawah. Pemimpin dengan mudahnya mengeluarkan pernyataan 'akan diusut' atau 'akan ditindak'. Padahal seharusnya seperti pepatah akrawet dai akrawia, atakom haramtaka, meunye cikok sarong chit lingkong mata. Artinya kegagalan atau keburukan di bawah tidak lepas dari keburukan di atas atau pimpinan.

Maka tidak aneh jika di negeri ini pemimpin seperti tidak punya urat malu. Setiap keburukan selalu ditimpakan ke bawah. Padahal yang di ataslah yang seharusnya merasa paling bersalah. Pasalnya pejabat yang ditempatkan sebagai pimpinan unit kerja adalah perpanjangan tangan pimpinan yang menjadi 'top leader'. Konon lagi di Aceh. Buruknya rekrutmen pejabat terjadi karena kesalahan pemimpin di pemerintahan.

Tampak aneh saat publik membaca reaksi gubernur atau unsur DPR Aceh dalam menanggapi kasus RSIA. Eksekutif dan legislatif harus menanggung kesalahan bersama atas buruknya sistem pelayanan publik. Ini mengindikasikan betapa mereka telah gagal mengawasi kinerja aparatur di bawahnya. Mereka gagal menjalankan fungsi pemerintah yang baik.

Hampir tidak pernah ada cerita sukses pemerintah dalam hal urusan pelayanan publik. Kritik dan hujatan tidak juga mampu mengubah ke arah yang lebih baik. Hanya angin lalu saja. Seperti pepatah Aceh alee top beulacan, meurangkapue ta khuen malee jih tan.  Semua kritikan dianggap hujatan. Sehingga para pengkritik dianggap musuh. 

Apa yang sedang terjadi di Aceh saat ini benar-benar bentuk kegagalan pemerintah. Sebab soal anggaran Aceh amatlah berlimpah. Seharusnya setiap ada kejadian harus menjadi alat introspeksi. Semua lini harus dicari penyebabnya. Kalau yang salah jajaran paling bawah, tentu karena yang di atas tidak mengawasi. Gagalnya layanan karena sistem yang tidak berjalan. Sistem tidak berjalan karena manusianya yang tidak taat. Baik pada Tuhan maupun pada aturan.

Kasus RSIA hanya fenomena dari puncak gunung es. Masih sangat banyak kasus lain yang terus terjadi. Gubernur selama ini selalu bereaksi 'panas-panas tai ayam'. Hampir tidak kita lihat tindakan seketika setelah beliau mengeluarkan pernyataan keras. 

Menjelang akhir masa jabatannya, apalagi gubernur juga berambisi untuk maju kembali sepatutnya ia juga berambisi memperbaiki kinerja bawahannya. Wajib memberikan reward dan punishment yang tepat. Bila seperti ini kejadiannya, jangan harap rakyat masih mau menggadaikan suaranya. Rakyat tidak mau lebih bodoh dari keledai yang jatuh ke lubang yang sama berulang-ulang.

Semoga para pembisiknya sadar akan hal ini. Sehingga kemudian 'membisikkan' kepada Gubernur tentang hal-hal yang sedang dibutuhkan rakayat. Bukan membisikkan intrik atau kepentingan keluarga maupun kroni. Cukup Suryani dan bayinya yang menjadi korban terakhir dari kasus ini. Semoga.[]