BANDA ACEH – Koordinator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Swedia, Bakhtiar Abdullah, menyebutkan pihaknya tidak memiliki kaitan dengan oknum yang membawa bendera Bulan Bintang dalam Aksi Bela Islam yang berlangsung di Jakarta, Jumat, 4 November 2016 tadi.
“Sejak 15 Agustus 2005, GAM dan pemerintah Indonesia sudah mencapai kesepakatan yang tertuang di dalam MoU Helsinki, dan GAM tetap komit dengan perdamaian tersebut sehingga tidak ada alasan bagi GAM untuk menggunakan bahasa-bahasa ancaman yang memperkeruh suasana politik di Indonesia,” ujar Bakhtiar Abdullah melalui email yang ditujukan ke redaksi portalsatu.com, Jumat malam.
Meskipun demikian, Bakhtiar mengatakan GAM tetap mendoakan keselamatan untuk semua peserta demonstrasi. “Sebab unjuk rasa merupakan hak demokrasi rakyat untuk menyampaikan pendapat,” katanya.
Seperti diketahui, massa Front Pembela Islam (FPI) asal Aceh ikut serta dalam Aksi Bela Islam yang berlangsung di Jakarta. Mereka menuntut kasus penistaan kitab suci Alquran yang dilakukan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok diproses hukum.
Massa FPI Aceh tersebut turut membawa spanduk tuntutan terhadap Ahok. Namun yang menjadi masalah adalah spanduk tersebut berlatarbelakang bendera Bulan Bintang berukuran besar. Selain spanduk, massa FPI asal Aceh tersebut juga turut mengibarkan bendera Bulan Bintang dalam konvoi menuju istana merdeka.
Dalam siaran pers yang ditujukan kepada media, Juru Bicara FPI Aceh, Mustafa Husin Woyla juga mengultimatum Presiden Jokowi agar memberikan keadilan terkait kasus penistaan agama tersebut. Dalam ultimatum itu, Mustafa mengatakan Aceh akan berpisah dengan NKRI jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.
“Kami bangsa Aceh tidak mau mendapat kutukan Allah akibat bernaung di bawah negeri yang mungkin telah mendapat intervensi asing.”



