AKU mendukung kebebasan berekspresi. Akan tetapi itu bukan artinya kita mengundang babi ke sebuah kampung dan menyebutnya orang. Binatang itu tetap binatang, kita diwajibkan menjaga haknya, akan tetapi bukan artinya derajatnya sama dengan manusia. Tidak pernah ada kebebasan yang sejati di dunia ini, disebabkan kebebasan kita juga mesti mempertimbangkan kebebasan orang lain.

Aku mendukung sebuah tradisi, sebuah tradisi (adat istiadat) mesti terus dipertahankan selama penganutnya ingin mempertahankannya. Pantang ada pihak lain yang mengkritik atau ingin mengubahnya. Itu melanggar hak kebebasan bersikap manusia.

Antara kebebasan berekspresi dan memelihara budaya adalah hak asasi manusia. Akan tetapi semua itu mesti berada di dalam ruang lingkup akal sehat manusia disebabkan manusia itu memiliki akal budi, karena perbedaan manusia dengan binatang itu hanyalah pada akal budinya. Manusia memiliki peradaban, maka tatkala manusia melakukan kebebasan yang tidak lagi berdasarkan akal budi maka itu itu nafsu hewani yang menandakan itu bukan peradaban. Itu bukan lagi ekspresi.

Maka sekali lagi, kebebasan berekspresi itu mesti sejalan dengan akal budi manusia, karena kita berada di dalam peradaban manusia, bukan dunia binatang.[]