Bayi yang lahir ke dunia ini hingga berumur dua tahun, yang disusui ibunya secara psikologis amat penting dalam proses pembinaan kepribadian anak. Pada usia balita inilah dasar-dasar perkembangan kepribadian sedang diletakkan.

Jika anak mendapatkan dan mengalami kasih sayang dan kemesraan dengan penuh ketulusan, maka kepribadiannya kelak akan berkembang dengan utuh dan teguh, sehat dan wajar. Kedua orang tua berkewajiban mendidik, mengarahkan dan mengasuh agar menjadi individu yang saleh dan berakhlak mulia.

Apabila kewajiban ini dilaksanakan dengan baik oleh kedua orang tua dan pendidik, ia merupakan kebahagian di dunia dan akhirat. Begitu pula dalam keluarga, orang tua punya tanggung jawab sangat besar dalam membentuk karakter dan kepribadian anaknya (Ali Qaimi, Peran Ibu dalam Mendidik Anak,2002).

Jamal Abdurrahman, dalam karangannya Pendidikan Ala Kanjeng Nabi menyebutkan, pendidikan anak-anak dalam Islam mestilah dilakukan sejak dini. Semakin awal adalah semakin baik. Karena keadaan anak-anak lebih dekat dengan fitrahnya.

Sama halnya dengan riwayat Ibnu Sina: “Ketika anak telah diasuh oleh ibunya, maka ajarkanlah etika Islam sebelum ia diserang oleh nilai-nilai yang buruk”. Seorang pendidik diharapkan mampu menanamkan sikap keagamaan pada anak didiknya.

Orang tua, orang-orang dewasa dan masyarakat berperan penting untuk membantu anak-anak dan remaja untuk mengembangkan kemampuan, agar dapat memberikan partisipasi yang berarti dalam kehidupannya di dunia. Bantuan tersebut terutama dalam bentuk kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan mereka. Marasuddin Siregar, 1999).

Sementara menurut Hasan Basri,beliau menyebutkan, demikian pula dalam pemberian makanan hendaknya selalu memperhatikan waktu, cara dan kedisiplinan yang baik, agar pengaruh positifnya diperoleh anak-anaknya.

Hubungan orang tua yang efektif penuh kemesraan dan tanggung jawab yang didasari kasih sayang yang tulus, menyebabkan anak-anaknya akan mampu mengembangkan aspek-aspek kegiatan manusia pada umumnya, ialah kegiatan yang bersifat individual, kegiatan sosial, dan kegiatan keagamaan.

Menurut konsep pendidikan Islam, bermacam-macam cara yang efektif perlu dilaksanakan oleh orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Cara tersebut adalah menciptakan kehidupan yang penuh keteladanan, pemberian keterangan yang sangat dibutuhkan, latihan-latihan dalam keluhuran budi dan penolakan atas tingkah laku yang tercela serta pujian atas penghargaan tingkah laku atau perkataan yang baik, semuanya itu merupakan cara-cara yang dapat dan perlu dibiasakan dalam kehidupan yang sedang dijalani.

Setiap orang tua mengharapkan anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan berperilaku yang baik (ihsan), oleh karena itu dalam membentuk kepribadian anak harus secermat mungkin dan seteliti mungkin. Karena pendidikan pertama yang diterima anak adalah pendidikan dari orang tua, sehingga perlakuan orang tua terhadap anaknya memberikan andil sangat banyak dalam proses membentuk kepribadian anak.

Keluarga merupakan masyarakat pendidikan pertama yang nantinya akan menyediakan kebutuhan biologis dari anak dan sekaligus memberikan pendidikannya sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang dapat hidup dalam masyarakatnya sambil menerima dan mengilah serta mewariskan kebudayaannya (Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, 2005)

Mansur juga menambahkan bahwa Islam juga memandang keluarga adalah sebagai lingkugan pertama bagi individu di mana ia berinteraksi atau memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar dari kepribadian. Semua perbuatan anak yang dijadikan tali pengendali berasal dari orang tuanya sendiri, orang tua merupakan suatu basis penting dalam menanggulangi kenakalan anak-anaknya, sedang sekolah di saat ia sedikit besar hanya faktor penunjang.

Oleh karena itu orang tua dalam menerapkan pola asuh pada anak-anaknya harus berdasarkan nilai-nilai atau norma Islami. Orang tua tidak hanya cukup menanamkan ketauhidan saja, tetapi yang lebih penting adalah mensosialisasikan ketauhidan tersebut dalam perbuatan nyata.

Dalam konsep Pendidikan Agama Islam mengharuskan setiap orang tua untuk mengkondisikan kehidupan keluarga menjadi situasi pendidikan sehingga terdapat proses saling belajar di antara anggota keluarga. Dalam situasi ini orang tua menjadi pemegang peran utama dalam proses pembelajaran anaknya, terutama semenjak ia lahir dan dikala mereka belum dewasa. Kegiatannya antara lain melalui asuhan, bimbingan, contoh dan teladan. Tujuan kegiatan ini ialah untuk membantu perkembangan kepribadian anak.[]